Sejarah dan Kontroversi: Kretek, Kenikmatan yang Membakar

 

RASIOO.id – Rokok kretek, produk tembakau yang dicampur dengan cengkeh, tidak hanya memegang peran dalam sejarah budaya Indonesia, tetapi juga menimbulkan kontroversi terkait dampak kesehatannya.

Sejarah Kretek

Kretek pertama kali diciptakan oleh seorang pria bernama Haji Djamhari pada awal abad ke-20 di Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Kombinasi tembakau, cengkeh, dan saus khusus menciptakan aroma dan rasa khas yang membedakan kretek dari rokok konvensional. Sejak saat itu, kretek menjadi simbol budaya Indonesia dan menyebar ke berbagai negara.

Selama era kolonial Belanda, kretek menjadi bagian integral dari perlawanan terhadap penjajahan. Pada periode tersebut, produksi kretek semakin berkembang dan menciptakan industri yang memberdayakan masyarakat lokal.

Djamhari, yang menemukan kretek ketika berusaha mengatasi sesak napasnya dengan minyak cengkih.

Ia kemudian bereksperimen dengan mencampur bubuk cengkih dan tembakau, melintingkannya dengan “klobot” kulit jagung. Lintingan tersebut dibakarnya sehingga menghasilkan bunyi khas “kretek..kretek..kretek…”. Inilah asal-usul nama kretek.

Dalam perkembangan kretek di Indonesia tidak luput dari peran Nitisemito, Bapak Kretek Indonesia. Nitisemito, seorang buta huruf, merintis kesuksesannya dari kegagalan di berbagai bidang.

Lahir pada 1863, dia mulai sebagai kusir dokar dan penjual tembakau. Setelah menikahi Nasilah, pembuat rokok kretek, pasangan ini mengembangkan usaha tersebut menjadi industri besar dengan merek Bal Tiga di Kudus.

Meski buta huruf, Nitisemito terbukti jenius dalam bisnis kretek. Ia berhasil menerapkan manajemen modern dan pemasaran yang inovatif. Kesuksesannya membuatnya dikenal sebagai pengusaha pribumi sukses, bahkan Presiden Soekarno sering berkonsultasi dengannya pada masa perjuangan kemerdekaan.

Baca Juga : Jejak Demokrasi Indonesia : Menelusuri Sejarah Pemilu dalam Panggung Politik

Manfaat dan Kontroversi

  1. Kenikmatan Rasa: Rasa khas kretek, campuran tembakau dan cengkeh, memberikan kenikmatan yang dihargai oleh sebagian besar perokok kretek.
  2. Pengaruh Ekonomi: Industri rokok kretek merupakan salah satu sektor ekonomi terbesar di Indonesia, memberikan lapangan pekerjaan dan kontribusi signifikan terhadap perekonomian negara.

Namun, di sisi lain, rokok kretek juga menjadi sumber kontroversi besar terutama terkait dengan dampak kesehatannya. Tembakau dan cengkeh yang terbakar dalam rokok kretek menghasilkan sejumlah senyawa kimia berbahaya yang dapat meningkatkan risiko penyakit paru-paru, kanker, dan masalah kesehatan lainnya.

Baca Juga : Jejak Sejarah Jembatan Cisadane Kota Tangerang: Melintasi Arus Waktu dan Sungai

Tantangan Masa Depan

Dalam menghadapi kesadaran global tentang dampak merokok terhadap kesehatan, industri rokok kretek dihadapkan pada tantangan untuk berinovasi dan menyikapi kekhawatiran masyarakat terhadap kesehatan. Beberapa produsen telah mencoba menciptakan varian rokok kretek yang lebih rendah kandungan nikotin atau menggabungkannya dengan bahan lain.

Sejarah rokok kretek mencerminkan kompleksitas budaya dan ekonomi. Sementara kenikmatannya dihargai oleh banyak orang, perlu perhatian serius terhadap implikasi kesehatannya. Peningkatan kesadaran dan kebijakan yang mendukung kesehatan masyarakat menjadi kunci untuk mengelola dampak rokok kretek di masa depan.

 

 

Simak rasioo.id di Google News

Lihat Komentar