RASIOO.id – Ancaman bencana bisa datang kapan saja tanpa peringatan. Menyadari hal tersebut, Pemerintah Kota Tangerang terus memperkuat budaya kesiapsiagaan masyarakat melalui program Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) yang kini diperluas di berbagai wilayah.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Pemkot Tangerang dalam membangun masyarakat yang tidak hanya siap menghadapi bencana, tetapi juga mampu meminimalkan risiko dan bangkit lebih cepat setelah bencana terjadi.
Wakil Wali Kota Tangerang, Maryono Hasan, menegaskan bahwa Keltana memiliki peran vital sebagai garda terdepan dalam upaya pengurangan risiko bencana di tingkat kelurahan. Menurutnya, masyarakat merupakan pihak pertama yang berhadapan langsung dengan ancaman sekaligus menjadi penolong pertama ketika situasi darurat terjadi.
“Saat ini telah terbentuk 65 Kelurahan Tangguh Bencana di Kota Tangerang dan jumlahnya akan terus bertambah menjadi 80 kelurahan dari total 104 kelurahan yang ada. Keberadaan Keltana menjadi pilar penting dalam mendeteksi dini potensi ancaman serta meminimalkan dampak bencana di masing-masing wilayah,” ujar Maryono saat menghadiri kegiatan di Aula Kantor Kelurahan Batusari, Kecamatan Batuceper, Rabu 24 Juni 2026.
Menurutnya, tantangan kebencanaan saat ini semakin kompleks. Karena itu, pola pikir masyarakat harus berubah. Penanganan bencana tidak bisa hanya berfokus pada respons ketika musibah terjadi, tetapi harus dimulai dari kesiapan dan mitigasi sejak dini.
Maryono menilai, membangun budaya kesiapsiagaan merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan seberapa besar dampak yang ditimbulkan ketika bencana datang.
“Bencana dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Karena itu, cara pandang kita harus bergeser dari sekadar tanggap darurat menjadi budaya kesiapsiagaan. Semakin siap masyarakat menghadapi risiko, semakin kecil dampak yang ditimbulkan ketika bencana terjadi,” katanya.
Ia menjelaskan, keberadaan Keltana tidak hanya berfungsi sebagai wadah koordinasi kebencanaan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenali potensi ancaman di lingkungannya, memahami langkah-langkah mitigasi, hingga mampu mengambil tindakan yang cepat dan tepat saat kondisi darurat.
Dengan meningkatnya kapasitas masyarakat, setiap kelurahan diharapkan mampu menjadi komunitas yang lebih mandiri, tangguh, dan siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Di sinilah peran penting Keltana sebagai garda terdepan dalam upaya pengurangan risiko bencana. Masyarakat adalah pihak pertama yang menghadapi ancaman sekaligus pihak pertama yang memberikan pertolongan ketika bencana terjadi,” jelasnya.
Sebagai bentuk komitmen, Pemkot Tangerang terus mendorong peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sistem kesiapsiagaan berbasis komunitas. Penguatan kapasitas warga menjadi fondasi utama dalam membangun wilayah yang aman dan berkelanjutan.
Maryono menegaskan, ukuran keberhasilan sebuah wilayah bukanlah seberapa sering atau jarang bencana terjadi, melainkan bagaimana masyarakat mampu mengenali risiko, melakukan mitigasi, dan pulih dengan cepat setelah menghadapi musibah.
“Ketangguhan sebuah kelurahan tidak diukur dari ada atau tidaknya bencana, tetapi dari kemampuan masyarakatnya dalam mengenali risiko, melakukan mitigasi, dan pulih dengan cepat saat menghadapi bencana. Karena itu, budaya kesiapsiagaan harus terus kita bangun dan perkuat bersama,” pungkasnya.
Dengan target pembentukan 80 Kelurahan Tangguh Bencana dalam waktu dekat, Kota Tangerang menunjukkan keseriusannya membangun sistem perlindungan masyarakat yang kuat. Sebab, ketika kesiapsiagaan menjadi budaya, masyarakat tidak hanya mampu menghadapi bencana, tetapi juga memiliki kekuatan untuk bangkit dan bertahan dalam setiap situasi.














Komentar