Dua Warga Kabupaten Bogor Jadi Korban Pesawat ATR 42-500, dari Tajurhalang dan Caringin

RASIOO.id – Dua warga Kabupaten Bogor menjadi korban pesawat ATR 42-500 yang meledak di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu 17 Januari 2026.

Kedua korban asal Kabupaten Bogor itu yakni Esther Aprilita sebagai Pramugari asal Kecamatan Caringin dan Dwi enjinering pesawat ATR 42-500 asal Kecamatan Tajurhalang.

Istri Dwi, Sinta Jayanti (38) menjelaskan bahwa suaminya saat itu sedang bertugas ikut patroli kelautan dari Jakarta ke Semarang. Kemudian dari Semarang berhenti menuju Yogyakarta.

“Terus menginap di Yogyakarta terus paginya jam 8 suruh berangkat lagi kan memang tugasnya jam 8 berangkat ke Makassar buat patroli, udah begitu kalau pesawat aman menginap dulu Makassar terus nanti paginya pas siangnya balik ke Yogya. Terus abis dari Yogya balik lagi ke Jakarta, gitu,” jelas dia.

Namun, dari Yogyakarta menuju Makassar, Sinta putus kontak dengan suaminya dan baru mengetahui dari berita bahwa suaminya menjadi korban pesawat ATR 42-500.

Ia sempat berdoa agar suaminya selamat saat pergi dari Yogyakarta menuju Semarang. Sinta tak menyangka doa itu merupakan doa terakhir yang ia sampaikan langsung kepada suaminya.

“Terakhir komunikasi hari Sabtu jam delapan, pas mau berangkat dia mau berangkat bilang ‘Mih Abi nanti jam delapan kalo diundur berangkat ya’ gitu terus saya balas ‘Iya, Bismillah ya hati-hati’ saya gituin. Udah gitu udah, habis itu ga ada (komunikasi) lagi. Kan biasanya kalo udah sampai ‘Abi (ngabarin) udah sampai ya, udah di hotel ya’ gitu,” jelas dia.

Tak lama, pihak kantor menelpon namun tidak diangkat olehnya karena mengira hanya salah sambung. Sebab, kartu sim yang dipakai Sinta merupakan kartu milik Dwi.

“Terus saya tinggal tidur, terus jam 02.00 WIB saya di WA sama kantor minta doanya buat Pak Dwi lost kontak. Biasanya kalau landing ngabarin kadang kalau ga sibuk ngabarin kalo sibuk ga ngabarin paling ngabarin kalau udah sampai Jakarta lagi,” jelas dia.

Sementara, keluarga Esther Aprilita, masih menunggu kepastian apakah Esther masih hidup atau sudah tiada. Kendati demikian, jejeran kursi plastik hijau dan tenda putih seperti mengisyaratkan bahwa keluarga sudah pasrah jika Esther pulang hanya tinggal jasad.

Paman Esther, Arya menyampaikan, pihak keluarga di Bogor belum mendapatkan kabar pasti soal keadaan Esther saat ini. Arya mengaku, baru ada dua yang sudah dilakukan evakuasi, namun keduanya bukan Esther.

“Belum, ngeliat tv baru dua dapat (dievakuasi),” kata dia, Senin 19 Januari 2026.

Namun, ayah Esther, Adi Sianipar sudah menuju ke Makassar untuk menjemput anaknya dalam kondisi apapun. Arya mengaku, hati seorang bapak langsung terpukul saat Esther tidak bisa dihubungi setelah adanya musibah pesawat ATR 42-500.

Arya menjelaskan, Esther merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Esther merupakan sosok perempuan baik yang bahkan masih lajang.

“Baik orangnya makanya bapaknya nangis nangis, pas dapet kabar kejadian lost contact bapaknya nangis nangis. Anak pertama dari tiga,” jelas dia.

Arya mengaku bahwa Esther adalah anak kesayangan bapaknya. Sehingga, orang tua Esther tidak kuasa menahan tangis setiap hari setelah mendapatkan kabar kecelakaan pesawat ATR 42-500 itu.

“(Keadaannya sekarang?) Saya ga tau, bapaknya yang komunikasi terakhir. Bapaknya sering komunikasi, karena dia anak kesayangan, anak kesayangan bapaknya,” jelas dia.

 

Simak rasioo.id di Google News

Komentar