RASIOO.id – Rentetan tragedi kemanusiaan yang terjadi dalam waktu berdekatan di Kabupaten Bogor membuka luka sosial yang lebih dalam. Kasus pembunuhan seorang istri oleh suaminya di Sukaraja pada Minggu, 18 Januari 2026, disusul aksi bunuh diri mahasiswa Universitas Djuanda, bukan sekadar peristiwa kriminal atau persoalan individual. Di baliknya, ada tekanan ekonomi yang kian mencekik.
Ekonom Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor, Egi Agustian RS, memaparkan bahwa beban ekonomi yang semakin berat telah mendorong sebagian orang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya—hingga nekat melampaui batas kemanusiaan.
“Tekanan ekonomi yang makin berat menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus bunuh diri dan pembunuhan,” ujar Egi, Rabu, 21 Januari 2026.
Baca Juga: Setelah Bunuh 4 Anak Kandungnya, Panca 5 Kali Coba Bunuh Diri Tapi Tidak mati
Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IUQI Bogor itu menjelaskan, mahalnya biaya hidup yang tidak sebanding dengan pendapatan membuat banyak keluarga hidup dalam tekanan berkepanjangan. Kondisi tersebut perlahan menggerus daya tahan mental masyarakat.
“Pendapatan menurun, pengangguran, utang rumah tangga, serta biaya hidup yang terus naik membuat sebagian orang berada di kondisi stres ekstrem. Di titik itu, nalar bisa runtuh,” jelasnya.
Situasi ini, kata Egi, semakin diperparah oleh paparan media sosial yang menampilkan citra kesuksesan instan dan gaya hidup serba mewah. Bagi mereka yang berjuang di bawah tekanan ekonomi, konten semacam itu justru menumbuhkan rasa gagal, iri, dan keputusasaan.
“Tekanan sosial hari ini bukan hanya dari dapur, tapi juga dari layar ponsel. Ketika realitas hidup tidak seindah yang ditampilkan media sosial, rasa tertekan makin dalam,” lanjutnya.
Menurut Egi, ketimpangan ekonomi dan lemahnya jaring pengaman sosial membuat banyak orang merasa sendirian menghadapi krisis. Dalam kondisi tersebut, luapan tekanan bisa mengambil dua bentuk ekstrem.
“Ada yang melampiaskan krisisnya ke diri sendiri, ada pula yang melampiaskannya ke orang terdekat. Ini bukan semata soal kesehatan mental, tapi cerminan rapuhnya perlindungan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, Egi menyoroti bahwa tekanan ekonomi di tingkat lokal tidak bisa dilepaskan dari situasi global. Ketidakpastian geopolitik, isu konflik berskala internasional, hingga kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat memberi efek berantai ke dalam negeri.
“Pelemahan rupiah saat ini banyak dipicu tekanan global, terutama kebijakan suku bunga tinggi di AS dan ketidakpastian geopolitik. Dampaknya nyata, mulai dari mahalnya impor hingga tekanan inflasi yang dirasakan langsung masyarakat,” paparnya.
Ia mengingatkan, jika tidak dikelola dengan serius, tekanan ekonomi tersebut berpotensi berubah menjadi krisis sosial yang lebih luas.
“Pemerintah harus menjaga stabilitas dengan koordinasi fiskal dan moneter yang kuat, penguatan cadangan devisa, serta kebijakan yang konsisten. Yang paling penting adalah menjaga kepercayaan publik dan pasar, agar tekanan ekonomi tidak berubah menjadi masalah struktural yang lebih dalam,” pungkasnya.
Baca Juga: Mahasiswa Universitas Djuanda Asal Sumatera Utara Ditemukan Tewas Gantung Diri di Kamar Kos










Komentar