Ketika Budaya Lokal Akhirnya Pulang ke Rumah

 

RASIOO.id – Kita patut menghela napas lega—bahkan boleh sedikit bertepuk tangan—melihat semakin banyak kepala daerah yang kini berani menonjolkan identitas budaya lokal dalam tata ruang dan fasad bangunan. Kantor pemerintah tak lagi seragam seperti fotokopian, melainkan mulai punya wajah, punya cerita, dan—yang paling penting—punya jati diri.

Kegembiraan ini tentu beralasan. Sebab sepanjang usia Indonesia merdeka, kita seperti anak kos yang kebanyakan meniru gaya hidup tetangga, tanpa benar-benar paham apakah cocok dengan dompet dan karakter sendiri. Hampir di semua lini, kita gemar mengimpor konsep: tata ruang dari sini, sistem hukum dari sana, pendidikan dari entah mana, lalu berharap semuanya langsung manjur seperti obat generik.
Nyatanya, banyak yang justru bikin pusing tujuh keliling.

Ambil contoh tata ruang. Kita bangga membangun kota modern, tapi lupa bertanya pada alam apakah ia setuju. Sawah berubah jadi beton, sungai dipersempit, bukit diratakan. Alam pun akhirnya protes dengan cara yang tidak sopan: banjir, longsor, dan bencana lain yang datang tanpa undangan.

Di bidang pendidikan, ceritanya tak kalah ironis. Kita meniru sistem Barat dengan penuh semangat, tapi sering setengah matang. Akibatnya, kita sendiri cemas melihat lulusan perguruan tinggi yang gelarnya panjang, tapi bingung mau berbuat apa. Pintar secara teori, gagap di realitas—seperti hafal peta tapi nyasar di kampung sendiri.

Karena itu, langkah mengangkat kembali budaya lokal patut dirayakan. Bukan sebagai romantisme masa lalu, apalagi sekadar hiasan dinding dan ornamen atap.

Budaya seharusnya hadir lebih jauh: dalam cara berpikir, cara berperilaku, hingga cara mengelola masyarakat.

Kearifan lokal sejatinya bukan barang antik. Ia adalah kumpulan pengalaman panjang sebuah bangsa dalam berdamai dengan alam, mengatur kehidupan sosial, dan menyelesaikan masalah tanpa harus ribut di media sosial.

Jika budaya lokal benar-benar dijadikan fondasi—bukan hanya pajangan—maka kita tak sekadar membangun gedung yang indah, tapi juga sistem yang membumi. Dan siapa tahu, suatu hari nanti kita tak lagi sibuk meniru, karena akhirnya percaya diri menjadi diri sendiri.

 

 

Simak rasioo.id di Google News

Komentar