RASIOO.id – Pemerintah Kota Bogor kembali menunjukkan langkah tegas dalam menata wajah kota. Wali Kota Dedie A Rachim menertibkan 14 bangunan liar yang berdiri di atas saluran air di wilayah Bogor Selatan, Jumat malam 3 April 2026.
Penertiban ini bukan sekadar pembongkaran, melainkan bagian dari upaya besar untuk mengatasi persoalan klasik kota: kemacetan dan buruknya sistem drainase. Selama ini, keberadaan bangunan liar seperti warung, bengkel, hingga tempat pencucian kendaraan dinilai mempersempit badan jalan sekaligus menghambat aliran air.
“Jalan sudah sempit, ditambah ada aktivitas di atas saluran air. Ini yang menyebabkan kemacetan dan drainase tidak berjalan optimal,” ujar Dedie.
Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menciptakan kenyamanan bagi masyarakat, khususnya pengguna jalan yang selama ini terdampak penyempitan akses.
Menariknya, penertiban berjalan relatif kondusif. Sejumlah pedagang bahkan memilih membongkar lapaknya secara mandiri sebelum petugas turun ke lokasi. Sikap kooperatif ini pun mendapat apresiasi langsung dari Wali Kota.
Penataan serupa sebelumnya juga telah dilakukan di wilayah Bogor Barat, tepatnya di Jalan Dokter Sumeru. Di lokasi tersebut, lebih dari 20 lapak berhasil dibongkar secara mandiri sebagai bentuk kesadaran bersama untuk mendukung penataan kota.
Tak berhenti di situ, Pemkot Bogor juga tengah memperkuat penataan di wilayah Bogor Tengah, seperti di Jalan Roda, Jalan Pedati, dan Jalan Lawang Saketeng. Kawasan ini akan dijaga agar tetap tertib, bersih, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.
Selain penertiban bangunan liar, berbagai langkah strategis turut dijalankan. Di antaranya pengalihan rute angkutan sayur dan buah menuju Pasar Gembong serta Pasar Jambu Dua untuk mengurangi kepadatan di pusat kota.
Program ini menjadi bagian dari penataan besar estetika kota, yang mencakup perapihan reklame, penataan kabel udara, hingga normalisasi drainase. Bahkan, pemasangan kanstin di sepanjang ruang milik jalan juga mulai dilakukan guna memperjelas batas antara badan jalan dan saluran air.
Dedie berharap, dengan normalisasi drainase ini, genangan air saat hujan tidak lagi meluap ke jalan. Dampaknya, infrastruktur menjadi lebih awet dan aktivitas masyarakat pun semakin nyaman.
Langkah tegas ini menjadi sinyal kuat bahwa penataan kota bukan hanya soal keindahan, tetapi juga tentang fungsi, keselamatan, dan kualitas hidup warga Bogor ke depan.















Komentar