Drainase Ditutup Pondasi, Kampung Parung Kored Tergenang 3 Hari Tanpa Jalan Keluar

RASIOO.id — Warga Kampung Parung Kored, Kelurahan Parung Jaya, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang, menghadapi genangan air yang tidak kunjung surut selama tiga hari terakhir. Air menggenangi RT 02 RW 01 dengan ketinggian 50 sentimeter hingga hampir 1 meter di beberapa titik.

Warga menyebut proyek pembangunan di belakang permukiman sebagai penyebab utama. Pengurugan lahan dan pemasangan pondasi menutup jalur pembuangan air yang selama ini warga gunakan.

Sebelumnya, kawasan ini tidak pernah mengalami banjir. Air hujan mengalir langsung ke empang yang berfungsi sebagai resapan alami. Setelah lahan itu tertutup, aliran air berhenti dan mulai menggenangi permukiman.

Nurhalim, warga setempat, menjelaskan bahwa drainase selebar sekitar 80 sentimeter kini sudah hilang karena tertutup beton.

“Dulu air langsung mengalir ke empang. Sekarang jalurnya tertutup, jadi air berkumpul di sini. Sudah tiga hari belum surut,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Air dari aktivitas rumah tangga dan hujan terus masuk ke lingkungan warga, tetapi tidak menemukan jalur keluar. Kondisi ini membuat genangan semakin tinggi.

Petugas membawa pompa untuk membantu mengurangi air. Namun warga menilai upaya itu tidak menyelesaikan masalah.

“Mau dipompa ke mana kalau jalurnya tidak ada? Air tetap kembali lagi ke sini,” kata Nurhalim.

Kekecewaan warga terus meningkat. Mereka menunggu realisasi pembangunan drainase baru yang belum kunjung berjalan.

Tokoh masyarakat, Haji Samin, mengatakan ia sudah beberapa kali membahas persoalan ini bersama pihak kelurahan dan pengembang. Namun hingga sekarang, ia belum melihat langkah konkret.

“Dulu kami sudah bahas di kelurahan. Mereka janji membangun drainase, tapi sampai sekarang belum ada hasil,” ujarnya.

Ia juga menolak rencana pembangunan yang baru dimulai pada Agustus 2026. Menurutnya, warga tidak bisa menunggu terlalu lama di tengah cuaca yang tidak menentu.

“Kalau hujan terus, warga akan terus kebanjiran sebelum drainase selesai,” tegasnya.

Samin menambahkan, proyek di lahan belakang awalnya bertujuan membangun lapangan padel. Rencana itu batal, tetapi pengurugan lahan sudah terlanjur menutup jalur air.

“Sekarang lahannya terbengkalai, tapi dampaknya langsung ke warga,” katanya.

Lurah Parung Jaya, Murdani, mengakui wilayah tersebut berada di dataran rendah. Ia mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menangani genangan.

“Kami langsung turun saat banjir terjadi dan melakukan penyedotan. Kami juga koordinasi dengan PUPR dan kecamatan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kawasan itu dulu memiliki empang sebagai resapan air. Setelah empang itu hilang, aliran air kehilangan jalur.

Pihak kelurahan berharap pembangunan drainase bisa segera berjalan tahun ini agar banjir tidak terus berulang.

Komentar