RASIOO.id – Kabar duka datang dari kalangan pegiat dan rekan-rekan media di Bogor. Sosok yang dikenal sebagai “Soekarno KW” dari Bogor, Sukadis atau yang akrab disapa Lucky Baret, berpulang pada Kamis, 26 Maret 2026.
Kepergian lelaki berbadan gempal itu meninggalkan duka sekaligus kenangan mendalam bagi banyak orang yang pernah mengenalnya.
Di mata sahabat-sahabatnya, Lucky Baret dikenal sebagai pribadi yang ceria, hangat, dan mudah bergaul. Kehadirannya hampir selalu mampu menghidupkan suasana, terutama ketika berkumpul bersama rekan-rekan media atau sahabat lama.
Obrolannya kerap mengalir panjang, mulai dari persoalan sehari-hari hingga pembahasan serius tentang bangsa dan masa depan Indonesia.
Salah satu kenangan yang paling membekas terjadi pada suatu malam di bulan Ramadan. Saat itu, saya bersama seorang sahabat tengah menunggu waktu berbuka puasa.
Bang Lucky Baret pun menawarkan agar berbuka bersama di kediamannya yang berada di wilayah Sukaraja, Kabupaten Bogor. Tawaran itu pun langsung disambut dengan antusias.
Namun rencana tersebut tak sempat terlaksana karena adanya kegiatan mendadak di sebuah kedai kopi. Buka puasa bersama akhirnya berganti menjadi rencana untuk sekadar ngopi di rumah almarhum.
Ketika saya dan seorang teman tiba di rumah Lucky Baret sekitar pukul 21.30 WIB, ternyata ia telah dilarikan ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang melemah.
Tanpa berpikir panjang, saya langsung menyusul ke rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari kediamannya. Di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), Lucky Baret masih ditemani oleh anak bungsunya. Meski terbaring dengan selang infus di tangannya, ia tetap menunjukkan sifat khasnya yang humoris.
“Ah Doyok ini dari tadi abang nungguin. Udah dibeliin cendol tapi nggak jadi datang,” ujar Lucky Baret dengan suara beratnya, diselingi tawa khasnya.
“Ya abang tahu sendiri, tadi saya ketahan sama teman-teman abang juga. Maklum mau Lebaran,” jawab penulis.
Suasana di ruang IGD pun seketika pecah oleh tawa yang tertahan, mengingat banyak pasien lain yang tengah dirawat. Tak ada yang menyangka, momen singkat penuh canda itu ternyata menjadi pertemuan terakhir kami.
Kecintaan Lucky Baret terhadap sosok Soekarno membuatnya kerap dijuluki “Soekarno KW” oleh teman-temannya.
Julukan itu muncul karena ia sering membahas pemikiran, semangat nasionalisme, serta gaya kepemimpinan Bung Karno dengan penuh semangat.
Salah satu tempat yang kerap menjadi saksi obrolan panjangnya adalah sebuah kedai kopi di pinggir Situ Cibinong Plaza lebih tepatnya di Kedai Bang Eful Pokwan.
Dari kejauhan, suara klakson mobilnya yang khas sering menjadi tanda kedatangannya. Tak lama kemudian, ia akan duduk bersama para sahabat, menyeruput kopi ditemani kepulan asap rokok, sambil memulai diskusi panjang tentang Indonesia.
Dalam setiap pertemuan, Bang Lucky selalu bersemangat ketika diminta menceritakan bagaimana Bung Karno memimpin bangsa ini.
Baginya, sosok proklamator itu adalah inspirasi yang tak lekang oleh waktu. Semangat nasionalisme itulah yang selalu ia tularkan kepada siapa saja yang mendengarkan kisahnya.
Kini Lucky Baret memang telah tiada. Namun bagi mereka yang pernah mengenalnya, suara, tawa, dan semangatnya seakan masih hidup—terutama ketika mengenang obrolan santai di kedai kopi tentang Indonesia dan cita-cita bangsa.
Satu kalimat yang selalu ia gaungkan masih teringat jelas di benak para sahabatnya:
“Langit boleh mendung, tapi tidak boleh hujan air mata darah di negeri ini. Api boleh panas, tapi tidak boleh membakar bumi pertiwi. Bersama Merah Putih, Burung Garuda, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, kita harus menjaga NKRI.”
Bang Lucky mungkin telah menyatu dengan alam. Namun kenangan tentang dirinya akan tetap hidup di hati para sahabat dan orang-orang yang pernah merasakan hangatnya pertemanan dengannya.
Semoga amal ibadah almarhum diterima oleh Gusti Allah SWT, dan segala kebaikan yang pernah ia tebarkan menjadi kenangan yang terus hidup bagi banyak orang.






![Ilustrasi Kasus Pelecehan seksual terhadap mahasiswi [Ist]](/wp-content/uploads/2023/06/Screenshot_68-300x178.jpg)



Komentar