RASIOO.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi kembali menjadi sorotan publik. Harga solar non-subsidi di sejumlah SPBU swasta dilaporkan melonjak tajam hingga mencapai Rp30.890 per liter, angka yang dinilai sangat tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Lonjakan tersebut terjadi pada beberapa penyedia BBM swasta seperti Shell dan VIVO. Kenaikan harga ini bahkan disebut hampir menyentuh dua kali lipat dibanding harga rata-rata solar non-subsidi dalam beberapa tahun terakhir.
Pengamat energi menilai, kenaikan drastis tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor global maupun domestik yang terjadi secara bersamaan. Salah satu pemicunya ialah naiknya harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik internasional yang memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.
Situasi geopolitik yang memanas membuat pasar minyak dunia bergejolak. Dampaknya, harga minyak mentah internasional ikut terdorong naik dan berimbas langsung pada harga BBM di dalam negeri, terutama sektor non-subsidi yang mengikuti mekanisme pasar.
Tak hanya itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor penting. Dengan kurs rupiah yang berada di kisaran Rp17.400 per dolar AS, biaya impor bahan bakar menjadi jauh lebih mahal bagi perusahaan penyedia BBM.
Kondisi tersebut membuat harga jual di tingkat SPBU ikut terkerek. Apalagi, sebagian besar kebutuhan energi nasional masih bergantung pada impor minyak dan produk turunannya.
Selain faktor global dan kurs mata uang, kenaikan biaya distribusi serta logistik internasional turut memperbesar tekanan harga. Biaya transportasi kapal, operasional distribusi, hingga pengiriman energi disebut mengalami peningkatan sepanjang tahun 2026.
Kenaikan harga solar non-subsidi ini diperkirakan akan berdampak luas terhadap sektor ekonomi masyarakat. Sebab, bahan bakar jenis diesel menjadi komponen utama bagi kendaraan logistik, truk pengangkut barang, hingga sektor industri.
Jika kondisi terus berlanjut, biaya distribusi barang dipastikan ikut meningkat dan berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran.
Sejumlah pelaku usaha transportasi dan logistik mulai mengeluhkan lonjakan biaya operasional yang semakin berat. Mereka khawatir kenaikan harga BBM akan berujung pada naiknya tarif angkutan serta menekan daya beli masyarakat.
Masyarakat pun berharap pemerintah dapat mengambil langkah antisipasi agar lonjakan harga energi tidak semakin membebani kondisi ekonomi nasional









Komentar