Nobar Film “Pesta Babi” di Taman Gajah, Mahasiswa Tangerang Soroti Papua dan Ruang Demokrasi

RASIOO.id – Sejumlah organisasi kepemudaan dan aliansi mahasiswa di Tangerang menggelar nonton bareng (nobar) sekaligus diskusi film dokumenter berjudul “Pesta Babi” di Taman Gajah, Kota Tangerang. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bersama terkait isu kemanusiaan, lingkungan hidup di Papua, hingga kondisi demokrasi di Indonesia.

Agenda yang berlangsung di ruang publik itu diinisiasi oleh koalisi lintas organisasi, di antaranya Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Kota dan Kabupaten Tangerang, Forum Aksi Mahasiswa (FAM) Tangerang, Tangerang Book Party, SAPMA PP Kota Tangerang, Pelajar Islam Indonesia (PII) Kota Tangerang, LMD Banten, serta GMNI Kota Tangerang.

Sekretaris Umum SEMMI Tangerang, Aditya Nugraha mengatakan, pemutaran film “Pesta Babi” sengaja dibawa ke ruang publik agar isu ketimpangan sosial dan lingkungan di Papua bisa diketahui lebih luas oleh masyarakat.

Menurutnya, persoalan di Papua tidak cukup hanya dibahas di ruang akademik, tetapi juga perlu menjadi perhatian publik dari berbagai kalangan.

“Kami melihat adanya kontradiksi yang nyata. Pemerintah begitu masif melakukan pembabatan hutan dan pengerukan tanah untuk sektor pertambangan, namun mengabaikan hak-hak dasar masyarakat di sana. Melalui film ini, kami ingin memperlihatkan kepada warga Tangerang bahwa kondisi di Papua sedang tidak baik-baik saja,” ujar Aditya saat diwawancarai di lokasi.

Ia menilai, eksploitasi sumber daya alam di Papua belum sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, terutama dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan rasa aman.

“Jangan sampai lahan mereka dikuras, tetapi hak atas pendidikan yang layak, fasilitas kesehatan, dan rasa aman justru diabaikan. Negara memiliki tanggung jawab konstitusional untuk menghadirkan ruang hidup yang menyejahterakan, sehat, dan aman bagi warganya,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal FAM Tangerang, Akbar Rido menyebut kegiatan nobar tersebut juga menjadi bagian dari refleksi Hari Kebangkitan Nasional sekaligus bentuk kritik terhadap kondisi demokrasi yang dinilai semakin sempit.

Akbar menyoroti banyaknya agenda pemutaran film “Pesta Babi” di sejumlah daerah yang disebut mengalami pembatalan akibat tekanan dan pembatasan ruang ekspresi.

“Kami mencatat ada ratusan agenda serupa di berbagai daerah yang dibatalkan karena pembatasan ruang ekspresi. Oleh karena itu, kami sengaja memilih Taman Gajah sebagai ruang publik terbuka untuk mematahkan stigma ketakutan tersebut dan membuktikan bahwa ruang demokrasi harus tetap sehat dan ideal,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, FAM Tangerang juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap isu lingkungan hidup dan hak asasi manusia.

“Hak untuk hidup yang layak dan lingkungan yang sehat adalah tanggung jawab kita bersama. Momentum ini adalah panggilan bagi kita semua untuk terus menjaga nilai-nilai demokrasi serta melawan segala bentuk otokrasi dan pembungkaman ekspresi,” pungkasnya.

Komentar