RASIOO.id – Pemerintah Kabupaten Bogor menghadirkan wajah baru pusat pemerintahannya di Cibinong. Alun-Alun Kabupaten Bogor yang dalam beberapa hari ke depan akan diresmikan itu menampilkan dua gerbang kembar berukuran besar dengan tulisan “Tritangtu di Buana” di bagian atasnya.
Di sisi lain, Tugu Kujang yang berdiri melingkari bola dunia di dekat pelataran Masjid Agung Baitul Faizin menambah kesan harmonisasi antara agama, budaya, dan semangat keterbukaan.
Sekilas, perubahan itu mungkin hanya terlihat sebagai penataan ruang kota. Tambahan lanskap, ruang terbuka hijau, dan ornamen budaya yang mempercantik kawasan pusat pemerintahan. Namun, sesungguhnya ada pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar urusan estetika.
Sebab, sebuah kota tidak hanya dibangun dengan semen, baja, dan batu. Kota juga dibangun dengan gagasan.
Di tengah laju pembangunan yang kerap berlomba menghadirkan gedung megah dan infrastruktur modern, Kabupaten Bogor tampaknya sedang mencoba mengingat kembali satu hal yang kerap terlupakan: identitas.
Alun-alun, dalam tradisi Nusantara, bukanlah sekadar ruang kosong di tengah kota. Ia adalah simpul peradaban.
Di sanalah warga bertemu tanpa sekat status sosial. Anak-anak bermain, pedagang kecil mencari nafkah, komunitas berkumpul, dan masyarakat merayakan berbagai peristiwa penting. Alun-alun adalah ruang demokrasi paling purba, tempat pemerintah dan rakyat dipertemukan oleh ruang yang sama.
Karena itu, apa pun yang diletakkan di alun-alun sesungguhnya bukan sekadar hiasan. Ia adalah pesan.
Dan pesan yang dipilih Kabupaten Bogor adalah: Tritangtu di Buana.
Bagi sebagian orang, istilah itu mungkin terdengar asing. Namun bagi masyarakat Sunda, Tritangtu di Buana adalah salah satu puncak kebijaksanaan leluhur.
Secara harfiah, tri berarti tiga, tangtu berarti ketentuan atau tatanan, sedangkan buana berarti dunia. Falsafah ini mengajarkan bahwa dunia hanya akan berjalan baik apabila ditopang oleh tiga unsur yang saling menguatkan dan menjaga keseimbangan.
Dalam tradisi Sunda kuno, konsep ini diwujudkan melalui tiga peran utama: rama, resi, dan prabu.
Rama mewakili masyarakat dan nilai-nilai adat. Resi melambangkan pengetahuan, kebijaksanaan, dan suara moral. Sementara prabu adalah pemegang kekuasaan yang menjalankan pemerintahan.
Ketiganya berdiri sejajar.
Tidak ada kekuasaan tanpa kebijaksanaan. Tidak ada kebijaksanaan tanpa kedekatan dengan rakyat. Dan tidak ada suara rakyat yang dapat diwujudkan tanpa tata kelola pemerintahan yang baik.
Di sinilah Tritangtu menjadi menarik. Ia bukan sekadar warisan budaya, melainkan konsep tata kelola yang tetap relevan hingga hari ini.
Di tengah zaman ketika kebijakan publik sering kali terjebak pada angka-angka statistik dan target administratif, falsafah ini mengingatkan bahwa pembangunan memerlukan keseimbangan antara aspirasi masyarakat, kajian ilmiah, dan keputusan politik.
Keberadaan tulisan Tritangtu di Buana di gerbang alun-alun seolah menjadi pengingat abadi bagi siapa pun yang melintas di kawasan pusat pemerintahan.
Bahwa kekuasaan yang baik adalah kekuasaan yang mendengarkan.
Bahwa pembangunan yang berhasil bukan hanya tentang apa yang dibangun, melainkan juga tentang nilai apa yang ditanamkan.
Bahwa modernitas tidak harus menghapus akar budaya.
Tugu Kujang yang berdiri melingkari bola dunia mempertegas pesan itu. Kujang adalah simbol identitas Sunda, sedangkan bola dunia melambangkan keterbukaan terhadap perubahan zaman.
Keduanya tidak saling meniadakan.
Sebab, masyarakat yang percaya diri terhadap budayanya tidak akan takut menghadapi dunia. Justru dari akar yang kuat itulah sebuah daerah dapat tumbuh dan beradaptasi.
Barangkali inilah yang sedang dicoba dibangun oleh Kabupaten Bogor: menghadirkan ruang publik yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga kaya makna.
Sebab ruang publik yang baik tidak sekadar menjadi tempat berfoto. Ia menjadi tempat orang merasa terhubung dengan sejarah, budaya, dan lingkungannya.
Ketika warga datang untuk berolahraga pada pagi hari, duduk santai pada sore hari, atau sekadar menikmati suasana malam, mereka sesungguhnya sedang berinteraksi dengan simbol-simbol yang mengingatkan tentang siapa diri mereka.
Tentang dari mana mereka berasal.
Dan tentang ke mana mereka ingin melangkah.
Pada akhirnya, pembangunan adalah ikhtiar menjawab kebutuhan masa depan tanpa memutus hubungan dengan masa lalu.
Bupati Rudy Susmanto yang kini memimpin Kabupaten Bogor tampaknya memahami bahwa kemajuan tidak selalu harus ditandai dengan melupakan warisan leluhur.
Sebaliknya, kemajuan justru dapat tumbuh dari kemampuan merawat nilai-nilai lama agar tetap hidup dalam wajah baru.
Karena kota yang baik bukanlah kota yang paling gemerlap, melainkan kota yang membuat warganya merasa memiliki.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari Tritangtu di Buana: menjaga keseimbangan antara warisan masa lalu, kebutuhan masa kini, dan harapan masa depan.
Simak rasioo.id di Google News











Komentar