RASIOO.id – Wilayah Kabupaten Bogor yang selama ini dikenal memiliki udara sejuk kini mulai mengalami perubahan cuaca yang cukup terasa. Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor mengeluhkan suhu udara yang terasa lebih panas dari biasanya, bahkan mencapai kisaran 32 hingga 34 derajat Celsius pada siang hari.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan menjelaskan, peningkatan suhu udara di Kabupaten Bogor terjadi akibat kombinasi faktor iklim global hingga perubahan lingkungan akibat pembangunan yang semakin masif.
“Secara klimatologis, suhu udara rata-rata di wilayah Bogor berkisar 25,5 sampai 27 derajat Celsius. Namun dalam periode tertentu kondisi ini dapat berubah akibat pengaruh fenomena iklim global, terutama El Nino-Southern Oscillation atau ENSO,” ujarnya, Kamis, 2 Juli 2026.
Ia menjelaskan, ENSO merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis yang terdiri dari dua fase, yakni El Nino dan La Nina. Saat El Nino terjadi, suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat sehingga pembentukan awan bergeser menjauh dari wilayah Indonesia.
Akibat kondisi tersebut, pasokan uap air menuju Indonesia ikut berkurang sehingga curah hujan menurun dan paparan sinar matahari langsung ke permukaan bumi menjadi lebih tinggi.
“Saat ini El Nino sedang berkembang di Samudra Pasifik tropis dan diprediksi berlangsung hingga akhir tahun 2026. Berkurangnya tutupan awan membuat masyarakat merasakan suhu yang lebih panas dibanding biasanya,” jelasnya.
Menurut Dr Givo, selain faktor global, kondisi panas yang dirasakan masyarakat Kabupaten Bogor juga dipengaruhi perubahan bentang alam akibat semakin berkurangnya ruang terbuka hijau dan meningkatnya pembangunan kawasan permukiman maupun industri.
Fenomena tersebut memicu terjadinya urban heat island atau pulau panas, yakni kondisi ketika suhu di kawasan padat bangunan menjadi lebih tinggi dibanding wilayah yang masih memiliki banyak vegetasi.
“Ekspansi kawasan terbangun di wilayah Bogor berlangsung cukup cepat. Jika pembangunan tidak diimbangi perlindungan ruang hijau, maka dampak perubahan iklim di tingkat lokal akan semakin terasa,” paparnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga tutupan vegetasi, memperluas penghijauan lingkungan, serta memperkuat tata ruang berbasis iklim agar peningkatan suhu di Kabupaten Bogor tidak semakin parah.
“Pohon menjadi solusi alami yang efektif menurunkan suhu udara, mengurangi efek pulau panas, sekaligus menjaga kualitas lingkungan,” tutupnya.












Komentar