Kemarau Panjang Mulai Berdampak di Bogor Pemkot Siaga Hadapi Krisis Air hingga Ancaman Heat Stroke

RASIOO.ID – Musim kemarau panjang mulai menunjukkan dampaknya di Kota Bogor. Selain memicu kekeringan di sejumlah wilayah, cuaca panas ekstrem juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti heat stroke. Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bergerak melakukan berbagai langkah, mulai dari penyaluran air bersih hingga memperkuat layanan kesehatan dan memperluas jaringan air bersih.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Erna Nuraena, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh cuaca panas yang melanda beberapa pekan terakhir. Menurutnya, salah satu ancaman serius adalah heat stroke, yakni kondisi darurat medis ketika suhu tubuh mencapai lebih dari 40 derajat Celsius akibat paparan panas berlebihan.

“Heat stroke dapat menyebabkan gangguan kesadaran seperti kebingungan, kejang hingga pingsan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berakibat fatal,” ujar Erna.

Ia menjelaskan, heat stroke berbeda dengan demam akibat infeksi. Kondisi tersebut umumnya terjadi karena tubuh tidak mampu mengendalikan suhu setelah beraktivitas dalam lingkungan yang sangat panas.

Kelompok yang paling rentan mengalami heat stroke adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang penyakit kronis, hingga pekerja lapangan seperti pedagang kaki lima, juru parkir, dan pengemudi yang setiap hari terpapar sinar matahari.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain suhu tubuh meningkat drastis, kulit terasa panas, sakit kepala, mual, jantung berdebar, napas cepat, kebingungan, hingga perubahan perilaku.

Dinkes mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan pada pukul 10.00 hingga 16.00 WIB, memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan pakaian yang longgar, serta beristirahat secara berkala di tempat yang teduh.

“Jika ada warga yang diduga mengalami heat stroke, segera pindahkan ke tempat yang sejuk dan bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis,” kata Erna.

Puluhan KK Terdampak Kekeringan

Di sisi lain, kemarau panjang juga mulai menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah Kota Bogor.

Sebanyak 50 kepala keluarga di RT 004 RW 007, Kelurahan Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara, mengalami kesulitan air bersih setelah sumber mata air dan sumur warga mengering.

Merespons kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor langsung menyalurkan sekitar 4.000 liter air bersih kepada warga terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, mengatakan laporan diterima melalui media sosial dan langsung ditindaklanjuti oleh Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB).

“Setelah menerima laporan, personel langsung melakukan asesmen, berkoordinasi dengan kelurahan, kecamatan, serta RT/RW setempat. Kami juga menyalurkan sekitar 4.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga,” ujar Dimas.

Tak hanya di Kedunghalang, kekeringan juga melanda RT 01 RW 12 Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat. BPBD kembali mendistribusikan 8.000 liter air bersih untuk membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut Dimas, penyebab utama kekeringan adalah mengeringnya sumber mata air dan sumur warga akibat minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.

BPBD memastikan akan terus memantau perkembangan di lapangan dan mengimbau masyarakat segera melapor apabila wilayahnya mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Pemkot Dorong Perluasan Jaringan Tirta Pakuan

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, meminta Perumda Tirta Pakuan mempercepat perluasan jaringan distribusi air bersih sebagai solusi jangka panjang menghadapi musim kemarau.

Menurut Jenal, kapasitas produksi air Perumda Tirta Pakuan masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar warga Kota Bogor. Namun, cakupan layanan perpipaan belum menjangkau seluruh wilayah.

“Ketika terjadi kekeringan air tanah atau sumur, stok volume air kita masih cukup. Yang menjadi tantangan adalah jaringan distribusinya yang belum menjangkau seluruh masyarakat,” ujar Jenal.

Saat ini, cakupan layanan Perumda Tirta Pakuan baru mencapai sekitar 75,46 persen, sementara target Sustainable Development Goals (SDGs) sebesar 90 persen.

Jenal meminta wilayah yang mulai terdampak kekeringan, seperti Kedunghalang, menjadi salah satu prioritas pengembangan jaringan air bersih.

Selain itu, ia menginstruksikan seluruh camat dan lurah untuk aktif memantau wilayahnya serta segera melaporkan titik-titik yang mengalami kekeringan agar bantuan dapat segera disalurkan.

“Pemkot harus hadir memberikan solusi, baik jangka pendek melalui distribusi air bersih maupun jangka panjang melalui perluasan jaringan pelayanan air minum,” tegas Jenal.

Komentar