RASIOO.id – Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Aktivis Peduli Pesantren bersama warga dan santri menggelar aksi di depan PT Duta Abadi Primantara (DAP), Kampung Galeong, Kelurahan Margasari, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Selasa, 6 Oktober 2026.
Dalam aksi tersebut, massa menyoroti keberadaan PT DAP dan PT Gandum Mas Kencana yang berada di kawasan Kampung Galeong. Mereka menduga terdapat persoalan terkait perizinan pembangunan, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), serta dampak pembangunan terhadap masyarakat sekitar.
Koordinator aksi, Sultan, mengatakan aksi tersebut dilakukan untuk menagih kesepakatan terkait ketenagakerjaan yang sebelumnya disampaikan perusahaan saat aksi pertama. Massa juga meminta perusahaan berkontribusi terhadap masyarakat serta membuka informasi terkait Amdal dan TJSL.
“Kami turun aksi untuk menagih janji soal kesepakatan ketenagakerjaan. Kami juga meminta perusahaan berkontribusi terhadap masyarakat, serta transparan terkait Amdal dan TJSL agar manfaatnya sampai kepada masyarakat,” kata Sultan.
Selain persoalan ketenagakerjaan, keberadaan perusahaan menjadi perhatian massa karena lokasinya berdekatan dengan Pondok Pesantren Daarul Rahman. Sultan menyoroti dugaan persoalan perizinan pembangunan hingga dampak lingkungan yang dirasakan warga dan para santri.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah banjir. Sultan menyebut kondisi banjir di Kampung Galeong semakin parah setelah berdirinya bangunan baru PT DAP.
“Drainase yang kita punya di depan menjadi mengecil dan kehilangan resapan,” ujarnya.
Menurut Sultan, banjir turut berdampak terhadap Pondok Pesantren Daarul Rahman yang berada di RT 3, sementara kawasan di depan pabrik berada di RT 4. Ia mengatakan warga telah menghadapi persoalan banjir selama lebih dari 15 tahun tanpa solusi yang jelas.
“Sudah ada pertemuan dengan pemerintah, terutama lurah dan RW, tetapi hanya sebatas seremonial. Kami meminta perusahaan ikut berkontribusi menangani persoalan banjir bersama instansi pemerintahan terkait,” katanya.
Ia menyebut banjir terparah yang dirasakan warga terjadi pada musim hujan 2025. Saat itu, ketinggian air di RT 4 disebut mencapai pinggang orang dewasa dan berdampak pada satu RT.
Kondisi tersebut juga dirasakan para santri. Salah satu santri Pondok Pesantren Daarul Rahman, Egi, mengatakan banjir mengganggu aktivitas belajar dan mengaji, terutama ketika musim penghujan.
“Kalau musim penghujan pasti banjir. Sangat mengganggu aktivitas santri, apalagi banjir sampai ke tempat ngaji,” kata Egi.
Menurut Egi, kondisi banjir kini dirasakan lebih dalam dibandingkan sebelumnya. Air bahkan dapat masuk ke tempat mengaji sehingga kegiatan para santri terpaksa dihentikan.
“Dulu banjirnya tidak begitu dalam, sekarang bisa sampai ke tempat ngaji. Aktivitas santri terhenti semua,” ujarnya.
Tak hanya kegiatan mengaji, aktivitas harian para santri juga ikut terganggu. Saat banjir terjadi, kegiatan belajar disebut harus diliburkan sejak pagi hingga malam. Dapur pesantren juga ikut terendam sehingga aktivitas memasak mengalami kesulitan.
“Masak pun sulit karena dapurnya juga kerendam. Tempat ngaji pun libur,” kata Egi.
Selain PT DAP, massa turut menyoroti pembangunan yang dilakukan PT Gandum Mas Kencana. Menurut Sultan, perusahaan tersebut tengah membangun pemagaran batas tanah yang berhadapan dengan kantor PT DAP.
Ia menyayangkan pembangunan tersebut disebut dilakukan tanpa musyawarah terlebih dahulu dengan warga melalui pengurus wilayah setempat.
“Dengan adanya pembangunan tersebut, dari pihak RW maupun RT tidak ada musyawarah dengan warga. Tiba-tiba ada pembangunan,” ujarnya.
Atas sejumlah persoalan tersebut, massa meminta Pemerintah Kota Tangerang turun tangan melakukan pengecekan terhadap perusahaan yang berada di kawasan Kampung Galeong, termasuk perizinan pembangunan, Amdal, dan TJSL.
“Kami meminta Pemkot Tangerang mengecek perizinan pembangunan, Amdal, dan TJSL perusahaan,” kata Sultan.












Komentar