Tirakat Bumi: Belajar Tahu Kapan Berhenti

 

Tirakat bumi itu sederhana: manusia belajar tahu kapan harus berhenti.

RASIOO.id – Berhenti mengambil terlalu banyak. Berhenti membuang terlalu banyak. Dan, yang paling sulit, berhenti menganggap bumi sebagai tempat gratis untuk menaruh semua sisa keserakahan kita.

Lihat saja Galuga.

Puluhan tahun kawasan itu menjadi tempat kita menitipkan sampah. Sampah dari rumah, pasar, restoran, perkantoran, semuanya punya satu tujuan: Galuga.

Kalau sampah bisa bicara, mungkin Galuga sudah lama bilang, “Cukup, Bos.”

Kini ada babak baru. Pembangunan PSEL Bogor Raya 1 resmi dimulai di kawasan Galuga. Fasilitas ini dirancang mengolah sampah menjadi energi listrik, dengan kapasitas hingga sekitar 1.500 ton per hari. Proyeknya besar, teknologinya modern, investasinya juga tidak kecil.

Tentu ini kabar penting.

Tetapi ada satu hal yang jangan sampai kita lupakan: PSEL jangan dijadikan alasan untuk terus memproduksi sampah sebanyak-banyaknya.

Jangan sampai logikanya berubah menjadi: tidak apa-apa membuang banyak, toh nanti dibakar dan jadi listrik.

Itu bukan menyelesaikan persoalan. Itu hanya membuat kita lebih nyaman membuang.

Dalam pemikiran filsuf lingkungan Sonny Keraf, persoalan lingkungan bukan semata-mata soal teknologi. Ada persoalan cara pandang dan moral di dalamnya.

Manusia terlalu lama merasa dirinya pusat segala-galanya. Alam dilihat sebagai objek. Hutan menjadi kayu. Sungai menjadi saluran pembuangan. Tanah menjadi lahan pembangunan. Sampah dianggap urusan setelah keluar dari pintu rumah.

Padahal, setelah kita membuang sesuatu, benda itu tidak menghilang.

Sampah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya pindah alamat.

Dulu ke sungai. Kemudian ke laut. Sekarang sebagian akan masuk ke mesin PSEL.

Teknologinya boleh berubah. Tetapi pertanyaannya tetap sama: mengapa kita menghasilkan begitu banyak sampah?

Karena itu, makna tirakat bumi justru ada di hulu.

PSEL bekerja di hilir. Ia bisa membantu mengolah sampah yang sudah telanjur ada. Tetapi manusia harus belajar mengurangi sampah sejak dari rumah.

Belajar memilah.

Belajar menggunakan kembali.

Belajar membeli secukupnya.

Dan sesekali belajar mengatakan kepada diri sendiri: “Enggak usah beli, ternyata di rumah masih ada tiga.”

Sederhana, tetapi mungkin itulah teknologi lingkungan yang paling murah dan paling susah diterapkan: menahan diri.

Sebab persoalan bumi bukan hanya bagaimana kita mengolah sampah, tetapi bagaimana kita memperlakukan alam sebelum sampah itu lahir.

Galuga memberi kita pelajaran panjang.

Selama puluhan tahun, kita mengira masalah selesai ketika sampah sudah diangkut dari depan rumah.

Ternyata tidak.

Masalah baru saja berpindah tempat.

Maka pembangunan PSEL seharusnya bukan garis akhir, melainkan titik balik. Teknologi dibutuhkan, tetapi perubahan perilaku jauh lebih penting. Mesin boleh membakar sampah, tetapi manusia tetap harus belajar mengurangi sampah.

Sebab bumi bukan gudang raksasa milik manusia.

Bumi punya batas.

Dan kalau manusia tidak mau belajar mengenal batas itu, alam pada akhirnya akan mengenalkannya dengan caranya sendiri.

Mungkin itulah inti tirakat bumi: bukan meminta bumi bersabar menghadapi manusia, melainkan manusia yang belajar bersabar mengambil dari bumi.

Karena bumi tidak membutuhkan kita untuk terus berputar.

Kitalah yang membutuhkan bumi untuk terus hidup.

 

 

Komentar