RASIOO.id — Sejumlah pedagang mengeluhkan minimnya pembeli setelah direlokasi ke Pasar Gembrong dan Pasar Jambu Dua. Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menegaskan bahwa upaya pemerintah sudah dilakukan secara maksimal demi menghidupkan aktivitas di kedua pasar tersebut.
Menurut Jenal, berbagai langkah telah ditempuh untuk menarik minat pembeli, mulai dari rekayasa jalur angkutan kota hingga mengarahkan trayek dari berbagai sudut kota agar melintasi Pasar Jambu Dua dan Sukasari.
“Kita semua upaya sudah dimaksimalkan. Angkot kita arahkan masuk ke Jambu Dua dan Sukasari, bahkan dari wilayah kabupaten juga akan kita rekayasa jalurnya,” ujar Jenal, Rabu 2 April 2026.
Meski ada keluhan sepi, ia menyebut tidak sedikit pedagang yang justru merasakan peningkatan pembeli karena kedua pasar tersebut kini menjadi pusat belanja baru masyarakat Kota Bogor.
Di sisi lain, Pemkot Bogor juga tetap konsisten menertibkan pedagang kaki lima (PKL) agar berjualan sesuai tempat yang telah disediakan. Jenal menegaskan, PKL baru tidak diizinkan kembali berjualan di luar area resmi demi menjaga keadilan bagi pedagang yang sudah mengikuti aturan.
“Kasihan pedagang yang sudah tertib dan mau masuk ke dalam pasar. Jadi semua harus adil,” tegasnya.
Pemkot Bogor juga sebelumnya telah menggulirkan berbagai strategi promosi, seperti event, voucher belanja, hingga doorprize untuk menarik pengunjung. Salah satunya program senam gratis yang disertai pembagian voucher belanja sebagai daya tarik.
Namun demikian, Jenal menekankan bahwa tujuan utama relokasi bukan semata-mata soal ramai atau sepinya pembeli, melainkan penataan kota agar lebih rapi dan tertata.
“Sepi atau tidaknya, yang penting kita bersama-sama membantu menata kota agar lebih bersih, rapi, dan indah,” ujarnya.
Ia juga menyebut fasilitas umum seperti trotoar dan jalan kini bisa difungsikan kembali sesuai peruntukannya. Selain itu, Pemkot sempat memberikan keringanan berupa pembebasan biaya selama tiga bulan awal sebagai bentuk subsidi bagi pedagang.
Tak hanya itu, opsi pembayaran kios secara cicilan harian juga sempat ditawarkan guna meringankan beban pedagang.
Langkah ini diambil sekaligus untuk menghindari praktik pungutan liar yang merugikan pedagang. Jenal menegaskan bahwa pembayaran resmi melalui retribusi pemerintah jauh lebih jelas dan aman.
“Kenapa harus bayar ke oknum? Lebih baik masuk ke tempat yang resmi, representatif, dan nyaman,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Jenal mengajak masyarakat Kota Bogor untuk ikut berperan aktif dengan berbelanja di pasar-pasar tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap program penataan kota.
“Insyaallah saya dan Pak Wali juga akan sesekali belanja di sana,” pungkasnya.









Komentar