Trauma Proyek Gagal dan Ancaman Lingkungan, Warga Kayumanis Kota Bogor Tegas Tolak PSEL

RASIOO.id – Penolakan warga terhadap rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di wilayah Kayumanis, Kota Bogor, semakin menguat.

Dalam sosialisasi yang digelar Jumat, 8 Mei 2026, warga secara terbuka menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap dampak lingkungan, kesehatan, hingga trauma kegagalan proyek serupa di masa lalu.

Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menjanjikan teknologi modern dan sistem pengolahan berstandar internasional, warga mengaku belum sepenuhnya percaya proyek bernilai triliunan rupiah tersebut aman bagi lingkungan pemukiman.

Kekhawatiran itu muncul bukan tanpa alasan. Warga menilai lokasi pembangunan PSEL terlalu dekat dengan kawasan padat penduduk sehingga berpotensi menimbulkan berbagai persoalan baru di tengah masyarakat.

Wakil Ketua RT 04, Anto, mengatakan warga masih menyimpan trauma atas proyek serupa yang sebelumnya pernah direncanakan di lokasi tersebut namun berakhir mangkrak dan terbengkalai.

Menurutnya, masyarakat tidak ingin wilayah Kayumanis kembali dijadikan tempat percobaan proyek besar yang pada akhirnya justru meninggalkan masalah bagi warga sekitar.

“Lokasi fasilitas ini rencananya sangat dekat dengan pemukiman padat penduduk. Kami khawatir soal polusi udara, bau, dan dampak kesehatan bagi anak-anak kami,” ujar Anto.

Selain persoalan udara dan bau sampah, warga juga mengaku cemas terhadap ancaman pencemaran air sumur akibat aktivitas pengolahan sampah berskala besar yang akan berlangsung setiap hari.

Tak hanya itu, jalur transportasi armada pengangkut sampah juga menjadi sorotan utama penolakan masyarakat.

Warga RT 04, RT 05, hingga RW 06 merasa keberatan karena wilayah mereka direncanakan menjadi akses utama truk sampah menuju lokasi PSEL yang diperkirakan beroperasi selama 24 jam penuh.

Masyarakat khawatir aktivitas kendaraan berat tersebut akan menimbulkan kebisingan, kemacetan, bau tidak sedap, hingga menurunkan kualitas lingkungan permukiman.

Dalam forum sosialisasi, warga juga mempertanyakan langkah pemerintah yang dinilai terlalu cepat melakukan pendekatan kepada masyarakat sebelum kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) selesai dilakukan.

Menurut warga, pemerintah seharusnya terlebih dahulu memaparkan hasil kajian risiko lingkungan secara menyeluruh sebelum meminta dukungan masyarakat terhadap proyek tersebut.

Hingga kini, persoalan mengenai siapa yang akan bertanggung jawab apabila terjadi pencemaran lingkungan atau gangguan kesehatan di masa mendatang masih menjadi pertanyaan besar yang belum mendapatkan jawaban pasti.

Karena itu, warga meminta Pemerintah Kota Bogor untuk meninjau ulang lokasi pembangunan PSEL agar tidak mengorbankan keselamatan, kenyamanan, dan kualitas hidup masyarakat Kayumanis.

Penolakan warga pun kini menjadi perhatian serius karena proyek PSEL digadang-gadang sebagai solusi penanganan sampah modern di Kota Bogor, namun di sisi lain menimbulkan keresahan bagi masyarakat yang tinggal paling dekat dengan lokasi pembangunan.

Komentar