RASIOO.id – Adegan membakar rokok yang dilakukan AG (melalui peran pengganti) anak berkonflik dengan hukum dalam kasus penganiyaan berencana terhadap David Ozora (15), menyangkal keterangan pihak keluarga yang pada waktu sebelumnya meyakinkan publik bahwa AG tidak tahu Mario Dandy Satriyo akan menganiaya David.
Mentalist, Deddy Corbuzer, bahkan menyebut perilaku anak perempuan berusia 15 tahun yang merokok saat David sudah dalam posisi tertelungkup di bawah kaki Mario Dandy, menunjukan gangguan kepribadian dan anti sosial.
“Anak perempuan itu psikopat,” kata Deddy dengan nada marah, dalam video yang diunggah di akun medsosnya.
Dalam reka ulang yang dilakukan pada Jum’at 11 Maret 2023 itu, terungkap fakta, bahwa AG tidak menunjukan belas kasihan saat korban dianiaya dengan sangat sadis. Bahkan, AG beberapa kali berpindah posisi sambil terus menyaksikan kejadian tersebut. Tidak ada sama sekali upaya untuk menghentikan.
AG juga sempat bergantian dengan tersangka Shane Lukas untuk merekam adegan penganiyaan itu dengan kamera ponsel. AG baru berhenti merekam adegan ketika tindakan penganiyaan itu diteriaki oleh saksi N, ibu R teman David.
Sebelumnya, Ivana Yoan melalui narasitv menyampaikan, bahwa adiknya tidak tahu menahu akan terjadi penganiyaan. Bahkan Ivana menyampaikan, AG sempat berusaha mencegah terjadinya pertemuan antara Mario Dandy dengan David.
Kata Ivana, Mario yang memaksa AG mempertemukannya dengan David dengan alasan untuk mengembalikan kartu pelajar David yang kebetulan ada sama AG.
Ivana menambahkan, AG sebetulnya jauh waktu sebelum kejadian penganiyaan itu ingin mengembalikan kartu pelajar kepada David. Tapi, karena kali ini melibatkan Mario Dandy AG berusaha mengulur-ulur waktu.
Keterangan Ivana, menunjukan bahwa AG tahu Mario Dandy marah kepada David. Hal tersebut, karena beberapa waktu sebelumnya, kata Ivana, Mario Dandy mendapat informasi dari perempuan berinisial APA tentang perlakukan tidak baik yang dilakukan David kepada AG. APA belakangan diketahui adalah mantan pacar David. Informasi dari APA itu dikonfirmasi Mario kepada AG.
“Akhirnya berusaha mencegah terjadinya pertemuan dengan pulang ke rumah, ganti baju,” kata Ivana
AG kemudian keluar rumah lagi menuju salah satu Mall di Jakarta untuk treatment atau perawatan. AG pergi bersama Mario Dandy Satriyo. Nah, saat AG sedang di ruang treatment, Mario Dandy tanpa sepengetahuan AG menghubungi Shane Lukas. Ketiganya kemudian berkumpul.
“Tidak membahas apapun yang berurusan dengan D,” katanya.
Lalu, dengan mengendarai Rubicon milik Mario Dandy, mereka bergerak ke arah Lebak Bulus, rumah David. Di tengah perjalanan David yang ditanya oleh AG melalui whatsapp menjawab bahwa dirinya sedang di rumah temannya. Arah kendaraan Rubicon yang ditumpangi tiga remaja itu bergeser ke Pesanggrahan, rumah R lokasi yang ditunjukan David.
“Yang diketahui AGH hanya mengembalikan kartu pelajar,” kata Ivana
“AGH juga sempat mengingatkan MDS (Mario Dandy Satriyo) baik-baik ya nyelesainnya,” tambahnya.
Sesampai di lokasi, Mario Dandy dan Shane Lukas berusaha membuka teralis garasi rumah R. Tapi upaya itu tidak berhasil dan mereka akhirnya menunggu di teras. Lalu kemudian Mario Dandy meminta agar AGH menyuruh David turun.
Permintaan itu, menurut Ivana dilakukan dengan baik-baik.
“Kemudian memang ada VN (voice note) yang kemudian bernada tinggi. Sehingga keluar kata-kata disampaikan MDS, “lu yang turun atau gue yang naik,” kata Ivana menirukan isi voice note tersebut.
David kemudian turun dan bertemu Mario Dandy. Kepada AG, lanjut Ivana, Mario Dandy memberi isyarat agar yang lain pergi untuk memberi kesempatan mereka ngobrol berdua.
“AGH menunggu di mobil kemudian begitu kembali mendapati D sudah dalam posisi pushup,” kata Ivana.
Satpam perumahan yang melintas sempat menyapa dan bertanya sedang apa mereka disitu. “mereka jawab sedang COD,” sambil menunjuk ke arah rumah yang garasinya diisi mobil berwarna merah, Shane mengatakan COD sudah selesai. Saat Satpam datang, David sudah posisi berdiri.
Tak lama setelah Satpam pergi menjauh, Mario Dandy memerintah David ke posisi push up. Dalam posisi itu, Mario dandy mulai menganiaya David dengan pukulan dan tendangn ke arah tengkuk leher dan kepala. Hingga David tidak berdaya tendangan masih dilakukan Mario Dandy ke arah kepala David.
Ivana membenarkan, diakhir-akhir video, handpone yang sebelumnya di tangan Shane Lukas berpindah ke tangan AG. Kamera masih merekam, dan terdengar suara orang tertawa. Ivana membantah, suara tawa itu suara adiknya.
“AGH tidak tertawa, tidak menunjukan ekspresi senang, dia panik,” katanya.
Perbuatan keji itu terhenti setelah N ibu dari R teman David berteriak dan turun menghampiri lokasi. Terjadi beberapa dialog antara N dengan mereka bertiga.
Ivana mengatakan, yang dilakukan AG saat N menghampiri adalah mematikan rekaman video. AG kemudian membantu David yang sudah tergeletak dengan memangku bagian kepalanya.
Tapi apa yang dikatakan Ivana berbeda dengan reka ulang. Dalam adegan tersebut N memang meminta agar AG membantu menegakan kepala korban dengan memangkunya, tapi AG hanya melakukan dengan satu tangannya.
Baca Juga : APA Ternyata Mantan Pacar Mario Dandy
AG saat ini berstatus anak berkonfilk dengan hukum. Polda Metro Jaya yang mengambil alih kasus penganiayaan tersebut juga menambah konstruksi pasal untuk menjerat para tersangka yang sebelumnya dijerat pasal penganiyaan biasa menjadi penganiyaan berencana.
Mario Dandy Satriyo dan Shane Lukas berstatus tersangka. Adapun AG yang masih di bawah umur menyandang status anak berkonflik dengan hukum, atau anak pelaku.
Kasus ini bahkan merembet pada kecurigaan aparat terhadap sumber kekayaan yang dimiliki Rafael Alun. Rafael adalah ayah dari Mario Dandy, pejabat pajak yang beberapa waktu lalu sudah dipecat.
Kasus ini mengarah adanya praktik gratifikasi dan pencucian uang yang dilakukan Rafael. Bahkan terungkap, transaksi mencurigakan yang dilakukan Rafael sudah diendus PPATK sejak 2012 silam.
Hasil penyelidikan PPATK juga sudah diserahkan kepada KPK, pada 2013.
Tapi, nampaknya KPK menemui kesulitan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Hinga aparat berkesimpulan, Rafael melakukannya secara profesional dan tidak sendirian. Ada ‘genk’ yang bekerja bersama Rafael. Aliran transaksi mencurigakan sebesar Rp 500 miliar juga kini sedang ditelusuri.
Adapun David yang menjadi korban dalam penganiyaan itu masih terbaring di rumah sakit. David sudah melewati fase kritis dan saat ini berlanjut ke tahap pemulihan. (*)
Editor : Ramadhan














Komentar