RASIOO.id – Pasukan Israel kembali berulah di bulan suci Ramadhan. Mereka sejak Rabu dini hari menyerang dan menangkap lebih dari 350 warga Palestina yang tengah berada di Masjid Al-Aqsa. Israel juga mengusir jemaah Palestina dari masjid setelah sebelumnya beberapa warga Israel diizinkan memasuki Masjid.
Aparat Israel beralasan terpaksa masuk ke dalam masjid untuk mengusir para penghasut dan orang yang memprovokasi warga yang tengah berada di dalam masjid serta membarikade diri mereka dengan petasan, tongkat hingga batu. Tindakan Pasukan Israel itu mengakibatkan perlawanan dari jemaah yang tengah berada di dalam mesjid.
Insiden teranyar di Kompleks Al-Aqsa itu melukai sedikitnya 12 warga Palestina dan 400 lainnya ditahan secara ilegal di sel-sel Israel.
Baca Juga : Empat Peristiwa Penting yang dialami Nabi Muhammad dan Umat Sepeninggal Rasulullah di Bulan Rajab
Menanggapi situasi terkini di Palestina, Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon menyebutnya sebagai rutinitas barbar yang disengaja Israel.
“Ramadan tahun lalu Israel menyerang Al-Aqsa dan melukai sedikitnya 158 warga Palestina. Ramadan 2021 Israel juga melakukan hal yang sama, bahkan dampaknya termasuk paling berdarah karena memicu serangan Israel ke Gaza yang menewaskan sedikitnya 256 orang, termasuk 66 anak-anak, dan melukai lebih dari 1.900 orang,” ungkap Fadli dalam siaran persnya, dikutip rasioo.i dari laman resmi DPR RI, Kamis 06 April 2023.
Fadli menegaskan, serangan brutal Israel di setiap Ramadan dengan target jemaah Al-Aqsa jelas-jelas disengaja. Mereka sangat berniat menodai kesucian Al-Aqsa dan Ramadan.
“Ini tidak cukup dikutuk keras. Israel harus ditindak keras secepatnya,” sambung Wakil Presiden The League of Parliamentarians for Al Quds itu dengan tegas memperingatkan.
Atas terulangnya penodaan Israel atas Al-Aqsa di bulan Ramadan, Fadli yang juga Anggota Komisi I DPR itu mempertanyakan peran PBB, terutama Dewan Keamanan yang tidak belajar dari insiden-insiden sejenis sebelumnya.
“PBB terutama Dewan Keamanan seperti tidak belajar dari Bulan Ramadan sebelumnya. Seharusnya PBB sigap dan antisipatif. PBB gagap dan lamban. Jika diperlukan, Dewan Keamanan bisa menurunkan pasukan perdamaian di Al-Aqsa di setiap Ramadan,” kritiknya.
Disisi lain, Legislator Fraksi Partai Gerindra itu menilai serangan atas Al-Aqsa sebagai bagian provokasi Israel untuk ‘yahudisasi’ Masjid Al-Aqsa.
“Israel ingin meruntuhkan Al-Aqsa dan menggantinya dengan Temple Mount. Ini pernah sudah terjadi pada Masjid Ibrahimi di Hebron, di mana setengah dari masjid diubah menjadi Sinagog setelah tahun 1967,” tandasnya.
Lebih lanjut, Fadli mengingatkan lagi bahwa kontrol Israel atas Yerusalem adalah ilegal. “Tidak boleh dilupakan bahwa Kompleks Al-Aqsa berada di dataran tinggi di Yerusalem Timur, yang direbut Israel dalam Perang Enam Hari 1967, dan kemudian dianeksasi dalam tindakan yang tidak diakui oleh sebagian besar komunitas internasional,” pungkas Fadli.
Penyerbuan aparat keamanan Israel ke warga Palestina yang tengah berada di dalam masjid juga mendapat mendapat kecaman Sekretaris Jenderal PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) Hussein al-Sheikh. Husein mengecam tindakan itu dan mendorong dunia internasional untuk bertindak.
“Penyerangan Masjid Al Aqsa oleh aparat keamanan Israel, menyerang para jemaah dengan tingkat brutalitas seperti itu, membutuhkan tindakan segera dari dunia Arab dan internasional, menempatkan keselamatan jemaah dan perlindungan tempat-tempat suci lebih dulu,” cuitnya di Twitter.
Kecaman serupa disampaikan Kementerian Luar Negeri Palestina. Dikutip dari kantor berita Palestina WAFA, Kemlu Palestina dalam pernyataannya mengatakan, tindakan penyerbuan aparat keamanan Israel adalah sebuah tindakan yang ilegal terhadap hak dasar warga Palestina yang tengah menjalankan ibadah Ramadhan di tempat suci umat Islam itu.
“Palestina menegaskan kembali bahwa Israel, para pejabatnya, pasukan pendudukan, dan milisi pemukim, tidak memiliki kedaulatan apa pun atas bagian mana pun dari Kompleks Masjid Al-Aqsa. Warga Palestina memiliki hak mutlak untuk berdoa dengan bebas dan aman di dalam dan di sekitar kompleks suci, kapan pun, tanpa halangan atau kekerasan apa pun,” kata Kemlu Palestina. (*)
Editor : Ramadhan















Komentar