RASIOO.id – Bacaleg DPR RI dari partai Golkar Prayudha Septiadi Wijaya mengaku gelisah dengan sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat Tangerang Raya, Provinsi Banten.
Setidaknya ada dua masalah yang mengganggu pikirannya, sebelum akhirnya Pemuda asal Kota Tangerang ini mantap maju di Kontestasi Pemilu Legislatif (Pileg) 2024 mendatang. Yudha berangkat dari dapil III Banten, meliputi Kota Tangerang, Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang.
“Masalah paling mendasar itu adalah pengangguran. Di provinsi Banten ini angka pengangguran masih tertinggi sekitar 7,5 persen. Nah, ini jadi keresahan saya secara pribadi karena penyumbang pengangguran terbesar itu di kawasan dapil ini,” kata Yudha saat menghadiri diskusi Bacaleg yang gelar DPK KNPI Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, Minggu 29 Oktober 2023, kemarin.
Baca Juga : KNPI Batuceper “Adu” Bacaleg Kota Tangerang, Ini 5 Orang Yang Berani Hadir
Ihwal kegelisahan diungkap Yudha, saat panelis diskusi, Ukon Furkon Suhanda Akademi UNIS dan Romi Abidin Praktisi senior menanyakan terkait pengangguran dan persoalan yang ada di Kota Tangerang.
Menurut Yudha, untuk menekan angka pengangguran, maka diperlukan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia dan juga terbukanya lapangan pekerjaan.
Yudha mengakui, dua hal itu memang tidaklah mudah. Namun, dengan perkembangan teknologi digital hari ini, mestinya lapangan kerja bisa diciptakan dan SDM bisa dilatih sehingga dua hal itu dapat menekan angka pengangguran.
“Karena itu, Saya sebagai generasi muda tentunya merasa terpanggil untuk ikut terlibat dan memberikan solusi dari permasalahan di daerah kita,” kata Yudha.
Menurut Yudha, dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), tentunya ada peran perguruan tinggi yang bisa dimaksimalkan dan didekatkan dengan masyarakat.
Selain itu, pengembangan keterampilan hidup juga bisa dilakukan melalui program-program pelatihan. Peran pemerintah, kata dia, adalah memastikan agar fasilitas tersebut bisa diakses oleh masyarakat.
Yudha menekankan, dibutuhkan dua hal agar masalah ini bisa diatasi. Pertama, kesadaran masayarakat meningkatkan kualitas diri, dan berikutnya program pemerintah untuk memberikan fasilitas kepada masyarakat.
“Kesadaran terhadap pendidikan akan membentuk pola pikir dan pola laku yang menunjang pada kualitas individu. Dengan SDM yang unggul tentunya diharapkan dapat persaingan makin kompetitif dan pendistribusian terhadap spesifikasi bidang yang dibutuhkan memiliki ketersediaan lapangan kerja yang memadai,” kata dia.
Baca Juga : Gelar Diskusi Bareng KPU-Bawaslu, KNPI Benda Ungkit Peran Pemuda Kawal Proses Demokrasi
TPA Rawa Kucing
Selain soal pengangguran, persoalan yang juga membuat Yudha tak tenang hatinya, adalah masalah sampah. Belakangan, peristiwan kebakarn TPA Rawa Kucing di Neglasari, kata dia, menyadarkan pemerintah dan masyarakat, bahwa TPA yang beroperasi sejak 1992 itu tidak lagi memadai.
“TPA yang berjarak sangat dekat dengan bandara ini jika biarkan 2-3 tahun kedepan khawatir akan mengganggu penerbangan pesawat dan bau yang bersumber dari sampah. Hal ini menjadi perhatian bersama agar segala kemungkinan buruk itu dapat kita antisipasi,” kata dia.
Karena itu, lanjut dia, pengelolaan sampah di TPA harus dirumuskan ulang. Pengadaan teknologi modern yang dapat memaksimalkan pengelolaan sampah sangat dibutuhkan segera. Tentu saja, dengan segala keterbatasan anggaran, Pemkot Tangerang tidak akan mampu membiayai investasi pengadaan teknologi tersebut dengan hanya mengandalkan APBD.
“Undang undang No 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan sampah membuka ruang sinergitas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah. Selain itu diperlukan diplomasi government to government antar negara maju yang telah berhasil mendaur ulang sampah,” kata dia.
Undang-Undang tersebut, lanjut Yudha, diperkuat lagi dengan Perpres No. 35 Tahun 2018 Tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Intinya, lanjut Yudha, persoalan TPA Rawa Kucing harus segera dicarikan solusi. Yudha berkeyakinan, teknologi lah yang bisa mengurai masalah itu. Pilihannya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTsa).
“Sistem pengolahan sampah modern ini akan menjadi solusi dalam pengelolaan sampah kita, sejalan dengan itu pemerintah bisa mengajak masyarakat untuk secara sadar meminimalisir produksi sampah rumah tangga,” tandas dia.
Simak rasioo.id di Google News














Komentar