Semua menjadi serba tidak pasti! Begitu kata ahli dan praktisi menggambarkan situasi yang berkembang hari ini. Untuk menyederhanakan pemahaman, dan merespons situasi demikian di”narasikan” dengan istilah VUCA atau Volatility Uncertainity Complexity Ambiguity. Peristiwa di satu belahan dunia dinilai akan memiliki efek domino ke seluruh dunia, demikian juga satu letupan titik akan menggetarkan seluruh dunia.
RASIOO.id – VUCA sebagai sebuah istilah bukan barang baru. Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Warren Bennis dan Burt Nanus dari Amerika Serikat. Dalam buku “Leaders, The Strategies for Taking Charge” yang diterbitkan pada tahun 1987, dua ilmuwan ini mencoba menjelaskan kondisi lingkungan dan peperangan yang sedang berada pada saat yang tidak jelas setelah perang dingin dan jatuhnya Uni Soviet.
Pada saat itu, VUCA digunakan untuk menjelaskan lingkungan yang semakin kompleks dan tidak pasti yang dihadapi oleh pasukan militer pada saat peperangan. VUCA digunakan karena gambaran kondisi peperangan yang dinilai memiliki karakteristik tertentu yang berbeda dengan perang sebelumnya.
Peperangan pada saat itu diamati lebih volatil, lebih tidak pasti, kompleks, dan ambigu. Oleh karena itu, karakteristik kondisi tersebut digabungkan dalam istilah singkat VUCA, yaitu volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity.
Baca Juga : Ketua GP Ansor Batuceper ajak Milenial dan Gen Z Kritis Pilih Pemimpin
VUCA Era Kekinian
Di era kini, VUCA kembali mengemuka sebagai sebuah “gambaran” kengerian akan situasi dunia hari ini. Barangkali skala “kengerian”nya tak kalah mengerikan dibanding saat istilah itu diperkenalkan. Salah satu yang sekarang ini semakin terasa adalah dampak perubahan iklim, yakni pemanasan global dan efek rumah kaca. Keadaan demikian juga nyata-nyata memengaruhi perubahan segala aspek kehidupan, bisnis, politik, dan soal-soal sosial lainnya.
Volatilitas (situasi yang berubah dengan cepat atau labil), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas) dan Ambiguity (ambiguitas) ini adalah kenyataan yang terjadi sekarang dan akan terus berlangsung sampai ke masa depan. Mau tidak mau, semua perlu memaksakan diri untuk beradaptasi pada situasi yang sangat tidak menyenangkan dan tidak nyaman ini.
Dalam lingkungan bisnis dan masyarakat saat ini, banyak faktor yang membuat lingkungan sangat tidak stabil dan sulit diprediksi, seperti perubahan teknologi, politik, ekonomi, dan lingkungan.
Situasi bahkan menjadi begitu rumit dan kompleks karena kita memasuki pasar bebas kian menjadi-jadi yang didukung perangkat teknologi digital yang perkembangannya juga tak terperkirakan.
Keterbukaan pasar yang menembus sekat-sekat batas wilayah menjadikan persaingan dagang begitu keras. Siapa gagal mengadaptasi situasi, bisa jatuh terjungkal. Pun demikian yang gagal mengantisipasi bisa “keder” tak tentu arah.
Berbarengan dengan itu, perilaku masyarakat dunia turut berubah. Kemudahan mengakses informasi tidak melulu membawa dampak positif, karena banyak informasi yang tidak jelas dan sulit dipahami, seperti komunikasi yang tidak jelas, informasi yang bertentangan, dan informasi yang tidak lengkap. Bahkan semakin kencang narasi bernada kebencian yang berpotensi merusak persatuan.
Baca Juga : Mengenal 6 Kategori Generasi di Indonesia, Kamu Termasuk Generasi Apa?
Milenial dan Generasi Z
Nampaknya VUCA dan segala dampaknya harus menjadi perhatian yang diseriusi, terutama di kalangan milenial dan generasi z. Dua generasi ini menjadi “perantara” untuk membawa nilai-nilai lokal yang banyak kalangan menyebutnya sebagai kearifan lokal. Dalam konteks perubahan iklim, generasi milenial yang lahir di era 80-an, sedikit banyak mengalami bagaimana orang tua kita dulu memperlakukan lingkungan dan menjaga harmonisasi kehidupan sosial.
Nilai-nilai itu harus ditularkan pada generasi yang lebih muda, generasi z dan juga post-gen z yang juga dikenali dengan istilah generasi alpha. Milenial dan generasi z harus membawa pesan kuat untuk mengubah cara pandang hidup kita dan terutama meminimalisir penggunaan sesuatu yang akan menimbulkan efek rumah kaca.
Milenial dan generasi z juga harus mengambil bagian dalam mendorong Indonesia Emas 2045. Alasannya, mereka adalah para penerus bangsa yang akan menentukan masa depan Indonesia. “Ramalan” dan ekspektasi berbagai capaian kemajuan di 2045 tentu saja tidak bisa diwujudkan dengan sekedar mantra “sim salabim”.
Ramalan Indonesia maju, kekuatan ekonomi terbesar ketiga dunia pada tahun ini harus disertai dengan langkah konkrit dan strategis. Setidakpasti apapun situasinya, se kompleks apapun masalahnya, ikhtiar menuju mimpi itu harus dijalankan.
Penulis bersyukur, VUCA menjadi diskursus kalangan muda Nahdlatul Ulama (NU), setidaknya menjadi bahan diskusi di pengurus Badan Otonom NU di Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, Banten.
Kalangan yang diisi generasi milenial dan generasi z ini, berkeras mengasah kepekaan terhadap gejolak eksternal yang tidak pasti, kompleksitas isu-isu global, serta keragaman pendekatan yang diperlukan. Mereka mencoba berdiri sebagai garda terdepan dalam memberikan solusi berkelanjutan. Memang tidak mudah, itupun disadari sesadar-sadarnya.
Badan Otonom Nahdlatul Ulama Batuceper juga memahami bahwa respon terhadap isu-isu nasional dan global tidak dapat dilakukan dengan cara tunggal. Oleh karena itu, berbagai upaya membangun jaringan kemitraan yang kuat dengan berbagai pihak, baik dari sektor publik maupun swasta, guna menciptakan sinergi yang menghasilkan solusi yang lebih efektif gencar dilakukan.
Semangat dan komitmennya untuk terus menjaga nilai keadilan, kebijaksanaan, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam setiap keputusan dan tindakan, Badan Otonom Nahdlatul Ulama Batuceper bertekad untuk menciptakan lingkungan yang lebih stabil dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Penulis : Robi
Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, Banten.
Isi artikel ini adalah pandangan penulis sepenuhnya dan tidak mewakili redaksi rasioo.id
Simak rasioo.id di Google News















Komentar