RASIOO.id – Kecelakan lalulintas yang menyebabkan seorang pemuda bernama Febriansyah tewas terlindas truk tambang di Jalan Djuanda, Kelurahan Batusari, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang menyisakan kesedihan dan emosi warga sekitar.
Apalagi peristiwa kecelakaan yang melibatkan truk pengangkut tanah merah pada Selasa 5 Desember 2023, dini hari itu, bukan kali pertama terjadi. Kecelakaan serupa juga pernah menimpa korban lainnya beberapa waktu lalu.
Salah seorang warga, Yasin (27) menceritakan detik-detik peristiwa mengenaskan itu terjadi. Dia mengatakan, saat itu sekira pukul 02.00 WIB, korban bersama teman-temannya yang sehari-hari menjadi tukang parkir di salah satu minimarket dekat Kantor Kelurahan Batusari sedang memarkir kendaraan di depan kantor Kelurahan.
Saat sedang di pinggir jalan, tiba-tiba armada tambang bermuatan tanah merah melintas dengan kecepatan tinggi. Yasin menduga pengendara truk besar tersebut mengantuk hingga kehilangan kendali.
“Yang bawa mobilnya pada saat tu si kenek, sepertinya dia ngantuk terus banting setir. Nah, pada saat itu si korban sedang markirin mobil ketabrak, korban keseret sampeh pertigaan Alfa,” kata dia, Rabu 6 Desember 2023.
Baca Juga : Marah Warganya Tewas Terlindas, Warga Batusari Kota Tangerang Larang Truk Tambang Lintasi Jalan Djuanda
Teman korban yang mengetahui peristiwa itu kemudian meneriaki pengemudi truk supaya berhenti. Namun, sudah diteriaki tapi truk masih terus melaju.
“Kayaknya ga denger. Mobil baru berhenti ketika warga udah ada di depan Alfa (alfamart.red),” terangnya.
Saat mobil berhenti, posisi korban tertelungkup menahan dua roda belakang truk bermuatan material tanahnya yang bobotnya diperkirakan lebih dari 20 ton. Korban pun meninggal di lokasi kejadian.
Peristiwa itu menyulut emosi warga. Puluhan warga menggelar unjuk rasa di depan Kantor Kelurahan Batusari, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang pada Selasa malam 5 Desember 2023. Mereka melakukan “sweeping” armada truk tambang yang melintasi Jalan Djuanda.
“Kami sangat prihatin dan berduka cita atas apa yang dialami oleh warga kami dan menuntut agar aparatur pemerintah, aparat kepolisian menindak tegas. Truk besar tak boleh lagi melintasi jalan ini dan harus dialihkan ke jalan utama,” kata Jakwan, salah seorang pengunjuk rasa.
Menurut dia, jalan Djuanda seharusnya memang bukan untuk lalu lintas truk besar dengan muatan berat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir truk pengangkut material tanah melintas untuk menyuplai kebutuhan proyek pembangunan di sekitaran Bandara Soekarno-Hatta dan berlangsung hingga saat ini. Lalu lintas truk tersebut, kata dia, menyebabkan Jalan menjadi cepat rusak korban luka hingga meninggal dunia karena mengalami kecelakaan.
“Karena itu, mulai malam ini kami aliansi 7 ormas, KNPI, Forum Pemuda, dan Karang Taruna semuanya kompak meminta agar pihak pemerintah dan kepolisian mengalihkan lalulintas truk pengangkut tanah ini ke jalan utama langsung menuju jembatan Batuceper,” kata dia.
Dalam aksi hingga tengah malam itu, warga mengimbau para sopir armada tambang tersebut untuk tidak lagi melintasi jalan tersebut mulai hari ini. Apabila hal tersebut tidak diindahkan, warga mengancam akan melakukan upaya paksa.
“Berenti-berenti, mulai besokjangan lewat mari (sini) ya, kalau besok masih lewat mari gua bakar mobil lu,” kata seorang pengunjuk rasa lainnya.
“Malam ini masih imbauan ya, kasih tau temen-temennya yang lain,” sahut yang lainnya.
Mendapat peringatan itu, salah seorang sopir armada tambang nampak terkejut. Dia lantas menanyakan kenapa warga melarang mereka melintas jalan tersebut. Dengan nada emosi, warga lalu menjelaskan peristiwa kecelakaan yang mengakibatkan warga tewas terlindas truk.
“Lagian pake nanya lu, udah sono jalan,” kata pria tersebut sembari mengusir si pengemudi tadi.
Simak rasioo.id di Google News















Komentar