Aban Sudrajat Sagala Tina Awi

Sagala Tina Awi yang didirikan Aban Sudrajat hampir genap satu tahun berdiri. Aban mengatakan, untuk mempertahankan keberlangsungan workshopnya itu tentu saja bukan perkara mudah. Apalagi, usaha tersebut ia mulai dengan modal seadanya.

Aban tak sedikit menghabiskan waktu dan uang untuk merambah bisnis ekonomi kreatif yang lebih luas. Aban memperkaya pengetahuannya tentang bambu melalui riset kecil-kecilan. Dia juga memperluas jaringan pasar dengan mengikuti berbagai event, pelatihan, perlombaan dan pameran.

Aban juga membuka sanggar kecil di rumahnya. Wadah tersebut menjadi tempat muda-mudi dan anak-anak bertemu dan berlatih berbagai alat musik, menari, dan juga seni beladiri. Aban berharap, dengan kecintaan budaya yang terbangun di kalangan generasi muda, pelestarian kebudayaan dapat terurs berlangsung dan industri kreatif bernilai ekonomi bisa menopang kehidupan mereka.

Dari pelatihan dan pergulatannya membuat berbagai kerajinan berbahan bambu, Aban mulai memahami bambu sebagai bahan baku. Menurut dia, bambu memiliki karakteristik yang sangat unik. Karakter itu terbentuk dari bagaimana cara menanamnya, dimana bambu ditanam, dan kapan waktu tanam hingga waktu petiknya.

“Tanaman bambu mudah didapat dan proses pertumbuhannya lebih cepat dari tanaman kayu,” kata dia.

Uniknya, bambu, menurut Aban, memiliki ketahanan lebih kuat dibandingkan kayu. Bambu elastis dan mudah dibentuk. Namun, untuk mengolah karakteristik bambu yang demikian itu, kata Aban, butuh pemahaman yang baik terhadap jenis bambu yang akan digunakan sebagai bahan. Juga, kata dia, bisa dibilang ada teknik dan waktu khusus saat menanam dan menebang bambu untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Persooalan lainnya, kata Aban, adalah peralatan atau teknologi untuk dapat memaksimalkan karakter bambu sebagai bahan baku. Selain itu, juga butuh tenaga kerja kreatif dan terampil. Mendapatkan SDM tersebut, kata Aban, tidaklah mudah. Pun demikian untuk pengadaan peralatan yang harganya masih cukup terbilang mahal.

“Kalau sekarang yang saya lakukan adalah memberikan pelatihan dan memutar sebagian hasil penjualan untuk beli peralatan,” katanya.

Atas keuletannya itu, Aban tak terhitung kali mendapat apresiasi dan penghargaan. Penghargaan terakhir dia dapat dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Juli 2023. Aban juga kerap membantu pemerintah Kabupaten Bogor sebagai pengisi pameran produk lokal baik di Kabupaten Bogor maupun di luar daerah lainnya.

 

 

Simak rasioo.id di Google News

 

Komentar