Lafal Niat dan Fadlilah Shalat Tarawih Malam Pertama menurut Kitab Durratun Nasihin

RASIOO.id – Shalat Tarawih, sebuah praktik sunnah muakkad yang dilaksanakan pada malam hari di bulan Ramadhan, kembali memikat perhatian umat Islam dengan keutamaan yang diuraikan dalam kitab Durratun Nashihin.

Dalam kitab yang terhormat tersebut, terungkaplah keutamaan yang luar biasa dari Shalat Tarawih setiap malamnya selama bulan Ramadhan.

Pada malam pertama, diungkapkan bahwa dosa orang mukmin yang menunaikan Tarawih akan terampuni sebagaimana dosa-dosa yang keluar saat bayi baru dilahirkan.

Bagi mereka yang melaksanakan Shalat Tarawih pada malam pertama, disamakan dengan seorang bayi yang baru dilahirkan ke dunia, mengisyaratkan ampunan atas segala dosa-dosanya.

Baca Juga : 7 Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan

Keberuntungan umat Islam menjadi semakin jelas, mengingat dosa-dosa yang terakumulasi selama bulan-bulan lainnya, dengan pelaksanaan Shalat Tarawih pada malam pertama bulan Ramadhan yang menjanjikan ganjaran yang luar biasa.

Dengan demikian, keutamaan Shalat Tarawih kembali meneguhkan pentingnya ibadah di bulan suci Ramadhan, mengajak umat Islam untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Lafal Niat Shalat Tarawih

Dilansir dari laman nuonline, Shalat Tarawih sebenarnya tidak memiliki perbedaan jauh dengan shalat pada umumnya. Perbedaannya hanya terletak pada lafal niat yang akan diucapkan. Berikut lafal niat shalat tarawih bagi Imam:

أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيْحَ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اِمَامًا لِلهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatat tarâwîhi rak’ataini mustaqbilal qiblati imâman lillâhi ta’âlâ.

Artinya: Saya niat shalat Tarawih dua rakaat menghadap kiblat, menjadi imam karena Allah ta’âlâ.

Lafal niat shalat Tarawih bagi makmum:

أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatat tarâwîhi rak’ataini mustaqbilal qiblati ma’mûman lillâhi ta’âlâ.

Artinya: Saya niat shalat Tarawih dua rakaat menghadap kiblat, menjadi makmum karena Allah ta’âlâ.

Teknis  Shalat Tarawih

Setelah membaca lafal niat, dilanjut dengan rukun-rukun setelahnya, yakni takbiratul ihram, membaca doa iftitah, membaca ta’awudz, surat Al-Fatihah, membaca surat-surat pendek, ruku’, i’tidal, berdiri untuk melakukan sujud, sujud, tahiyat, membaca dua kalimat sahadat, membaca shalawat Ibrahim, dan diakhiri salam.

Jumlah rakaat shalat Tarawih sebagaimana pendapat mayoritas mazhab Syafi’i adalah sebanyak 20 rakaat dengan sepuluh salam. Hal itu berdasarkan hadits Rasulullah saw riwayat al-Baihaqi melalui jalur Ibnu Abbas, yaitu:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ جَمَاعَةٍ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرَ

Artinya: Sungguh Nabi Muhammad saw melakukan shalat di bulan Ramadhan tanpa berjamaah sebanyak dua puluh rakaat dan (ditambah) shalat witir.

Tidak hanya hadits di atas, dalil yang dijadikan pijakan oleh mayoritas ulama mazhab Syafi’i adalah tindakan sahabat Umar bin Khattab ra yang mengumpulkan umat Islam untuk melakukan shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat secara berjamaah di masjid. Tindakan ini kemudian diikuti oleh para sahabat.

Sementara Rasulullah saw memerintahkan umat Islam untuk selalu berpedoman pada sunnahnya dan sunnah al-Khulâfâ’ur Râsyidîn setelahnya (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra).

Rasulullah saw bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ

Artinya: Berpegang teguhlah kalian semua dengan sunnahku dan sunnah al-Khulâfâ’ur Râsyidîn sesudahku (az-Zuhaili, al-Fiqhul Islâmi, juz II, halaman 226).

Melalui dalil di atas, ulama mazhab Syafi’i menyepakati bahwa jumlah rakaat shalat Tarawih yang lebih utama adalah 20 rakaat. Mengenai teknisnya, ulama sepakat shalat Tarawih dilakukan dengan 10 kali salam. Artinya, setiap dua rakaat shalat Tarawih ditutup dengan salam, kemudian kembali melakukan dua rakaat dan salam, begitupun seterusnya sampai 20 rakaat.

Simak rasioo.id di Google News

Lihat Komentar