Makna Qurban dan Sosial Kemasyarakatan

RASIOO.id – Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

Idul Adha merupakan moment penting bagi seluruh umat Islam Dunia.

Bagi umat Islam yang melaksanan Ibadah Haji di Tanah Suci tanggal 8, 9, 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah menjadi puncak Ibadah Haji, dari Tarwiyah, Wuquf di Padang Arofah, Mabit di Muzdalifah, Mabit di Mina hingga lempar Jumrah di Jamarat dan Thowaf Ifadah.

Semua rangkaian puncak Ibadah Haji tersebut intinya adalah kepasrahan hamba kepada ALLAH dan pengakuan semua dosa yang telah diperbuat oleh manusia.

Dalam proses puncak Haji, semua status sosial dilepas dan ditinggalkan di tanah airnya masing – masing semua sama bersimpuh dihadapan ALLAH SWT, semua kecil tanpa daya, ibarat debu diserpihan sebuah tangkai daun, hanya ALLAH SWT yang Maha Besar yang akan mampu menjawab segala permohonan hamba yang terhampar di Padang Arofah.

Sang pejabat dan rakyat sama besimpuh dengan tetesan air mata, sang jendral dan kopral sama tertunduk merenungi lumuran dosa untuk memohon maghfirohnya, seraya berharap kehadapan-Nya mampu meraih predikat Haji Mabrur.

Sementara bagi umat Islam di Tanah Air, pada 10 Dzulhijjah merayakan Idul Adha, mengumandang Takbir, Tahmid dan Tahlil kemudian Sholat Idul Adha, dilanjutkan pemotongan hewan korban sampai akhir hari Tasyrik tanggal 13 Dzulhijah.

Pemotongan hewan korban menandakan keiklasan seorang hamba untuk mengorbankan sebagian hartanya dalam bentuk hewan korban, kemudian daging korban dibagikan kepada masyarakat tidak hanya fakir miskin, tapi untuk semua lapisan masyarakat.

Hal ini menggambarkan bahwa makna berkorban selain untuk kepentingan ibadah ritual sebagai bukti penghambaan kepada ALLAH (Hablum Minallah) korban juga memiliki makna pentingan membangun relasi sosial, kepedulian dan penghormatan terhadap sesama manusia (Hablu Minannas).

Lebih dari itu makna korban tidak sekedar mengorbankan harta benda dalam bentuk pemotongan hewan korban, akan tetapi sebagai hamba ALLAH, kita harus nampu mengorbankan egoisme kita, mengorbankan rasa ananiyah kita.

Bisa jadi saat ini kita sebagai pejabat, ulama, kyai, ajengan atau siapun kita dan apapun profesi kita, akan tetapi dalam kontek Ibadah Haji, semua itu kehilangan makna, karena yang paling bermakna dihadapan ALLAH SWT adalah kwalitas Taqwa jepada-Nya.

Sering kali kita mampu berkorban dalam bentuk harta benda akan tetapi tidak mampu mengorbankan egoisme dan gengsi kita, sehingga hewan korban yang disembelih, tidak berkorelasi dengan hati kita, karena ternyata kita belum mampu ” menyembelih / mengorbankan ” egoisme, ananiyah dalam hati kita “, sehingga Idul Adha, kurang memberi makna dalam kehidupan kita dalam berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Semoga kita semua, mampu memaknai Idul Adha ini, sebagai moment untuk refleksi dan instropeksi diri, untuk menjadi hamba – hamba ALLAH yang rela berkorban, utamanya mengorbankan ananiyah, ke akuan egoisme dan kesombongan yang ada pada diri kita yang seringkali kita lakukan tanpa kita sadari.

 

Oleh: H. Waspada, S.Ag, MM

Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta / Wakil Ketua KPAD Kab. Bogor

 

 

Wallahul A’lam Bishowaf.

Komentar