RASIOO.id – Demonstrasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bogor di depan Balaikota pada Kamis, 21 Agustus 2025, masih meninggalkan polemik. Di satu sisi, aksi vandalisme pada dinding gedung bersejarah itu menuai kecaman. Namun, di sisi lain, tuntutan substansial mahasiswa dianggap jauh lebih penting untuk ditanggapi serius.
Ketua DPD KNPI Kota Bogor, Rivaldo Surya, menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bogor seharusnya tidak terjebak pada isu vandalisme semata.
“Kita semua sebagai warga Kota Bogor mestinya fokus pada poin-poin gugatan massa aksi GMNI, bukan sekadar coretan kekecewaan di dinding Balaikota yang bisa dihapus,” ujar Rivaldo, Minggu, 24 Agustus 2025.
Menurutnya, langkah yang lebih bijak adalah menggali akar masalah yang memicu aksi tersebut. “Bukan menormalisasi vandalisme, tapi melihat penyebab kenapa mahasiswa sampai melakukannya. Itu yang lebih penting,” tegasnya.
Desak Pemkot Buka Ruang Dialog
Nada serupa disampaikan Wakil Ketua Bidang OKK DPD KNPI Kota Bogor, Gery Widiana Lutpi, yang menilai respons Pemkot justru berlebihan karena berencana menempuh jalur hukum.
“Sangat disayangkan ada rencana langkah hukum. Yang seharusnya dilakukan Pemkot adalah membuka ruang dialog seluas-luasnya bagi mahasiswa yang datang ke rumahnya sendiri, yaitu Balaikota,” kata Gery.
Ia mengingatkan, mahasiswa bukan ancaman, melainkan kelompok terdidik yang justru menghidupkan ruh demokrasi. “Pemerintah tidak perlu takut pada rakyatnya. Mereka hanya ingin bicara dan berdialog,” imbuhnya.
Sebagai wadah berhimpun organisasi kepemudaan di Bogor, KNPI menyatakan solidaritas terhadap gerakan mahasiswa.
“Gerakan mahasiswa jangan dipandang ancaman. Justru harus dilihat sebagai energi positif untuk mengawal pembangunan Kota Bogor,” tegas Gery.
Menurutnya, aspirasi yang disuarakan di jalan adalah bentuk kepedulian terhadap bangsa, sejalan dengan amanat UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, Pasal 16.
Jaga Kondusifitas, Kawal Aspirasi
Di sisi lain, KNPI juga mengimbau agar situasi Kota Bogor tetap kondusif pasca demonstrasi.
“Aspirasi rakyat akan lebih kuat jika disampaikan dengan tertib, dan pemerintah berkewajiban menterjemahkan keluhan rakyat dengan baik,” tegas Rivaldo.
Momentum Jaga Cagar Budaya
Menariknya, aksi vandalisme yang menyasar dinding Balaikota justru memantik kesadaran baru soal sejarah dan budaya kota.
“Vandalisme tetap salah. Tetapi hikmahnya, masyarakat kini tergerak kembali untuk memperhatikan cagar budaya Bogor. Atensi publik terhadap sejarah tiba-tiba menguat,” ujar Gery.
Ia menambahkan, momentum ini harus dikelola positif. “Apalagi Pak Wali Kota Dedie A. Rachim dan Bupati Bogor Rudi Susmanto sudah bersepakat menjaga dan merawat cagar budaya di seluruh Bogor. Demonstrasi kemarin bisa jadi pintu masuk menguatkan komitmen itu,” pungkasnya.
Simak rasioo.id di Google News















Komentar