RASIOO.id – Gelombang aksi unjuk rasa besar-besaran melanda Jakarta pada akhir Agustus 2025. Ribuan mahasiswa, buruh, hingga pengemudi ojek online turun ke jalan menuntut keadilan ekonomi, menolak tunjangan fantastis DPR, hingga mendesak kenaikan upah minimum.
Kericuhan pecah di sekitar Kompleks Parlemen Senayan, Senin, 25 Agustus 2025, ketika massa menolak tunjangan perumahan anggota DPR sebesar Rp50 juta per bulan. Tunjangan itu dinilai mencederai rasa keadilan sosial, di tengah kondisi rakyat yang masih bergelut dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Polisi merespons dengan tembakan gas air mata dan water cannon untuk membubarkan massa yang berupaya masuk ke Gedung DPR.
Aksi berlanjut pada Rabu (28/8) dengan ribuan buruh yang menuntut kenaikan Upah Minimum 2026 sebesar 8,5–10 persen, penghapusan sistem outsourcing, serta kontrak kerja yang dianggap merugikan pekerja. Di saat bersamaan, massa juga memprotes kebijakan pemerintah yang menaikkan pajak bumi dan bangunan (PBB) hingga 1000 persen di sejumlah daerah.
Situasi memanas setelah sebuah kendaraan taktis Brimob dilaporkan menabrak seorang pengemudi ojek online di lokasi demonstrasi. Korban tewas seketika di tempat kejadian, memicu kemarahan massa yang kemudian melempari aparat dengan batu dan bom molotov. Polisi kembali membalas dengan rentetan gas air mata.
Aksi protes ini mencerminkan hilangnya kepercayaan publik terhadap DPR dan pemerintah. Elit politik dinilai abai terhadap penderitaan rakyat, lebih mementingkan kepentingan kelompoknya, dan gagal menjaga sensitivitas sosial di tengah situasi ekonomi sulit.
Hingga kini, bentrokan masih menyisakan ketegangan. Organisasi buruh dan mahasiswa mengancam akan melanjutkan gelombang aksi jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Simak rasioo.id di Google News







Komentar