RASIOO.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan rangkaian gempa bumi yang mengguncang Sukabumi dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh aktivitas sesar aktif.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Sukabumi, Agung Saptaji, mengatakan pihaknya masih mengkaji sebaran gempa untuk menentukan sesar penyebabnya. “Untuk sementara penyebab gempa masih karena sesar aktif. Belum spesifik sesar apa, karena kami masih mempelajari sebaran gempa tersebut,” ujarnya, Minggu, 21 September 2025.
Gempa dengan magnitudo 4,0 pada Sabtu malam diketahui memiliki mekanisme pergerakan mendatar (strike slip fault). BMKG masih melakukan pemantauan intensif beberapa hari ke depan sebelum menarik kesimpulan lebih lanjut.
Agung menepis anggapan sebagian warga yang mengaitkan gempa dengan aktivitas pengeboran geothermal di kawasan Gunung Salak. “Kami tidak memiliki data terkait aktivitas geothermal, sehingga tidak bisa menyimpulkan ada hubungannya. Untuk sementara, penyebabnya lebih ke aktivitas tektonik di sekitar Pegunungan Halimun-Salak,” tegasnya.
Baca Juga: Gempa M 4,1 Guncang Bogor, BMKG: Dipicu Sesar Citarik yang Masih Aktif Sejak Jutaan Tahun Lalu
Sementara itu, Direktur Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan gempa utama (mainshock) bermagnitudo 4,0 dengan kedalaman 7 km terjadi di darat, tepatnya di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Gempa dikategorikan sebagai gempa tektonik kerak dangkal akibat sesar aktif.
Data sensor seismik di Darmaga dan Citeko menunjukkan karakteristik gelombang S berfrekuensi tinggi yang menegaskan gempa bukan dipicu aktivitas vulkanik. Analisis sumber juga mengindikasikan pergerakan mendatar.
Daryono menegaskan gempa tidak terkait dengan Sesar Citarik, karena episenternya berada jauh di barat jalur sesar tersebut. BMKG mencatat guncangan dirasakan cukup kuat di Kalapanunggal dan Kabandungan (III–IV MMI), Pamijahan dan Leuwiliang (III MMI), Bogor (II–III MMI), serta Palabuhanratu dan Depok (II MMI).
Gempa juga mengakibatkan kerusakan ringan pada sejumlah rumah di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan. “Data sementara, 20 jiwa mengungsi, lima rumah terdampak, dan 25 jiwa menghadapi situasi darurat. Syukurlah tidak ada korban jiwa maupun luka-luka,” kata Daryono.
Kerusakan bangunan dipicu hiposenter yang dangkal, kondisi tanah lunak, serta konstruksi rumah yang tidak tahan gempa. Hingga Minggu malam, tercatat 39 kali gempa susulan, lima di antaranya dirasakan warga dengan magnitudo terbesar 3,8 dan terkecil 1,9.
Daryono menambahkan, wilayah Sukabumi–Bogor memang kerap dilanda gempa merusak. “Kejadian serupa pernah terjadi pada Maret 2020 yang merusak ratusan rumah di enam kecamatan, serta Desember 2023 di Pamijahan dan sekitarnya,” ungkapnya.
Simak rasioo.id di Google News















Komentar