Ribuan Jamaah Hadiri Milad ke-33 Ponpes Ibnu Aqil Sekaligus Peringatan Hari Santri Nasional 2025

 

 

RASIOO.id – Suasana haru dan kebersamaan menyelimuti peringatan Milad Akbar ke-33 Pondok Pesantren Ibnu Aqil, yang dirangkai dengan penyambutan Hari Santri Nasional (HSN) 2025.

Acara yang digelar di lingkungan pesantren itu dihadiri lebih dari 2.000 jamaah dan santri, berlangsung khidmat dalam balutan rasa syukur yang mendalam.

Pimpinan Pondok Pesantren Ibnu Aqil sekaligus Ketua Yayasan KBIHU Ibnu Aqil, KH Agus Salim atau yang akrab disapa Abi Guslim, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh jamaah serta santri yang hadir dalam momentum istimewa tersebut.

Alhamdulillah wa syukurillah. Kami haturkan terima kasih atas kehadiran para santri dan jamaah dalam merayakan milad ke-33 Ponpes Ibnu Aqil sekaligus menyambut Hari Santri Nasional,” ujar Abi Guslim penuh rasa syukur.

 

Abi Guslim tak menyembunyikan rasa haru dan bangganya melihat antusiasme ribuan jamaah yang memadati area pesantren sejak pagi.

Masyaallah tabarakallah, tembus lebih dari 2.000 orang berkumpul hari ini. Semoga menjadi wasilah terkabulnya semua doa yang dipanjatkan, serta Allah limpahkan keberkahan dan kebaikan bagi para santri dan jamaah yang kami cintai,” tuturnya.

Baca Juga: Doa Rasulullah di Al-Arish, Tangis Syuhada Badar dan Sanad Semangat Pejuang Nusantara

Santri, Jiwa Mandiri dan Pengabdi Umat

Dalam kesempatan itu, Abi Guslim juga menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat dan perhatian yang terus diberikan kepada dunia pesantren. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah yang telah menetapkan Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap peran besar pesantren dan santri bagi bangsa.

“Hari Santri Nasional hanya ada di NKRI. Ini bukti nyata bahwa pemerintah menghargai kontribusi besar pesantren dan santri bagi bangsa — sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga hari ini,” ucapnya.

 

Namun di tengah penghargaan tersebut, Abi Guslim mengingatkan masih ada segelintir pihak yang belum memahami peran pesantren secara utuh. Ia menegaskan, santri adalah sosok yang terbiasa hidup dengan kesederhanaan, kemandirian, dan keikhlasan dalam mengabdi untuk umat.

“Kalaupun masih ada yang merendahkan pesantren dan santri, Allahummaghfir lahum fainnahum la ya‘lamun — Ya Allah, ampunilah mereka, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,” ucapnya lembut.

 

Menurutnya, santri sejati adalah pribadi yang siap beradaptasi di mana pun, seperti tepung terigu yang bisa diolah menjadi apa saja, asalkan memberi manfaat bagi banyak orang.

“Menjadi santri berarti siap hidup di mana saja dan menjadi apa saja. Yang penting, jadilah Khoirunnas anfa‘uhum linnas — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” pesan Abi Guslim yang disambut tepuk tangan hangat.

Peringatan Milad ke-33 ini bukan sekadar seremoni, melainkan ajang mempererat ukhuwah antara santri, alumni, dan jamaah KBIHU Ibnu Aqil.

Suasana hangat, penuh rasa syukur, dan semangat kebersamaan menjadi penanda kuatnya ikatan persaudaraan di lingkungan pesantren yang telah melahirkan banyak kader dakwah ini.

Sore itu, lantunan shalawat dan doa bergema dari setiap sudut pesantren — seakan menjadi simbol perjalanan panjang Ponpes Ibnu Aqil dalam menebar ilmu, menjaga nilai, dan membangun karakter umat.

 

 

Simak rasioo.id di Google News

Komentar