RASIOO.id — Negeri ini dalam sepuluh tahun terakhir menambah utang lebih dari Rp7.000 triliun, dikorupsi sekitar Rp3.000 triliun, dan anehnya, kini justru kesulitan membayar bunga utang sebesar Rp300 triliun.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Tanpa diksi akademik, tanpa eufemisme teknokratik. Hanya kalimat lugas — tapi cukup untuk membuka ruang kuliah ekonomi terbesar di republik ini.
Ketua MPR RI periode 2019–2024, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai bahwa selama bertahun-tahun, ekonomi di negeri ini menjadi bahasa kaum elit. Kata defisit terdengar seperti ancaman kiamat, sementara kata surplus seolah kabar gembira — meski rakyat tak pernah tahu, surplus itu mampir ke dapur siapa.
“Namun tiba-tiba, dinding menara itu retak. Sebuah nama — Purbaya — menendang pintu menara gading itu dari dalam, membuka ruang dialog di bawah. Kalimatnya terasa seperti kebocoran kebenaran dari ruang steril kekuasaan. Ia bukan sedang membakar, tapi menyalakan. Bukan menyerang, tapi menggugah,” ujar Bamsoet, Jumat, 31 Oktober 2025.
Menurutnya, inilah efek domino dari literasi ekonomi yang jujur. Rakyat mulai menghitung bukan sekadar mengeluh harga sembako, tapi menelusuri mengapa anggaran tak sampai ke mereka.
“Semua belajar, semua bicara. Freire menyebutnya conscientização — kesadaran kritis yang membuat rakyat tak lagi pasif, tapi partisipatif, dan mampu membaca kekuasaan,” jelas Bamsoet.
Bamsoet menilai, Purbaya telah membuka kotak pandora yang selama ini dibiarkan tertutup. Dalam penjelasannya, Purbaya menggambarkan fenomena uang daerah parkir di deposito seperti mobil dinas yang diparkir di garasi tanpa kunci — secara formal diam, tapi sebenarnya bisa dikendarai siapa saja.
Pejabat mendapat fee dari bank, uang rakyat tetap diam, dan ekonomi pun tidak berputar.
Simak rasioo.id di Google News










Komentar