Pendidikan kita tampak seperti pesta besar, tapi hidangan yang benar-benar disantap hanya sedikit. Sisanya dibawa pulang para tamu.
RASIOO.id – Pendidikan di negeri ini memang aneh. Ia selalu dipuji setinggi langit, diperlakukan seperti pusaka, tapi nasibnya sering seperti sandal jepit di masjid: dipakai banyak orang, tapi tak ada yang benar-benar merasa bertanggung jawab kalau hilang sebelah.
Pemerintah membelah urusan pendidikan menjadi banyak departemen. Pendidikan dasar punya kementerian, pendidikan menengah punya kementerian juga, pendidikan tinggi apalagi. Belum cukup, di daerah dibelah lagi: SD–SMP diurus kabupaten/kota, SMA–SMK dipeluk provinsi. Kalau ada lagi lembaga baru, mungkin bayi umur enam bulan pun akan kebagian dinas.
Dengan pembagian sebanyak itu, orang awam mungkin mengira pendidikan akan lebih rapi. Faktanya justru seperti berkas numpuk di meja pegawai kelurahan: banyak map, tapi entah mana yang harus diurus dulu.
Kurikulum dirombak berkali-kali. Katanya menyesuaikan zaman. Tapi guru dan murid sering tidak ikut berubah, sehingga perubahan hanya terasa di atas kertas. Murid tetap datang, duduk, mendengar, menghafal, pulang, lupa. Mereka bukan peserta didik, tapi lebih mirip objek percobaan yang ditempatkan di lingkungan “ilmu pengetahuan rasa tahanan kota”.
Begitu keluar dari sekolah, banyak yang shock menghadapi kenyataan. Jangankan memecahkan masalah bangsa, memecahkan masalah pribadi saja sulit. Mereka kaget bukan karena dunia terlalu keras, tapi karena mereka belum pernah dilatih menafsirkan apa yang terjadi di luar pagar sekolah.
Sementara itu, para pejabat di balik meja sibuk rapat membahas konsep pendidikan masa depan yang terdengar hebat—bila dibacakan dalam seminar internasional. Tapi ketika ditarik ke lapangan, yang tampak adalah ritual rutin pembagian anggaran: siapa kebagian lembar ini, siapa kebagian paket itu. Pendidikan jadi seperti proyek renovasi rumah: banyak gambar, banyak rencana, tapi tukangnya hilang entah ke mana.
Di level menengah, muncul pula fenomena pejabat londo ireng—yang hobi datang untuk “monitoring”. Monitoring ini kadang seperti kunjungan keluarga besar: sekolah harus menyiapkan jamuan, bahkan menyediakan uang transport. Sekolah yang keuangannya pas-pasan terpaksa putar otak. Padahal sekolah bukan BUMN yang bisa bagi dividen; untuk beli spidol saja kadang harus patungan.
Akhirnya pendidikan kita tampak seperti pesta besar, tapi hidangan yang benar-benar disantap hanya sedikit. Sisanya dibawa pulang para tamu.
Sementara murid-murid… mereka tetap duduk di bangku kelas, menunggu saat ketika pendidikan benar-benar berubah menjadi kendaraan masa depan. Bukan sekadar papan nama yang berganti, kurikulum yang direvisi, atau pejabat yang rajin monitoring.
Kalau Ki Hajar Dewantara masih ada, mungkin ia akan berkata sambil tersenyum miring:
“Pendidikan kita ini hebat. Saking banyak yang mengurus, semua titip tangan, tapi tak satu pun benar-benar memegang.”
Memang tidak semengerikan itu. Tetapi, kebanyakan memang begitu.
Simak rasioo.id di Google News





![Kepala Desa Situsari Dahlan [Jihan] Kepala Desa Situsari Dahlan [Jihan]](/wp-content/uploads/2024/05/9b0f970a-feb4-4bce-9927-289663d608b2-300x178.jpg)









Komentar