Sambut Ramadhan 1447 H, Warga Babakan Kota Tangerang Gelar Tradisi Keramas Bareng di Bantaran Sungai Cisadane

RASIOO.id – Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, ratusan warga Kelurahan Babakan, Kota Tangerang, menggelar tradisi tahunan Keramas Bareng di bantaran Sungai Cisadane, Selasa 17 Februari 2026. Tradisi yang dipusatkan di Dermaga Al-Ittihad, RW 02, ini berlangsung penuh kebersamaan dan sarat makna spiritual.

Sejak sore hari, warga dari berbagai usia tampak memadati tepian sungai. Dengan membawa perlengkapan mandi sederhana, mereka mengikuti ritual keramas bersama sebagai simbol penyucian diri menjelang bulan penuh keberkahan.

Kepala Bidang Kebudayaan Kota Tangerang, Supendi, mengatakan bahwa tradisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.

“Ini sudah puluhan tahun dilaksanakan di bantaran Kali Cisadane. Masyarakat keramas bareng dalam rangka mensucikan diri menuju bulan suci Ramadan,” ujar Supendi di lokasi kegiatan.

Menurutnya, Keramas Bareng bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan juga momentum mempererat tali silaturahmi antarwarga. Tradisi ini menjadi ruang untuk saling memaafkan dan memperkuat kebersamaan sebelum memasuki bulan puasa.

“Di sinilah tumbuh kebersamaan, saling memaaf-maafkan, dan juga mensucikan diri untuk menuju yang lebih suci lagi di bulan suci Ramadhan,” tambahnya.

Supendi menegaskan, tradisi tersebut memiliki nilai budaya yang kuat dan layak dijaga keberlangsungannya. Bahkan, pihaknya berencana mengusulkan Keramas Bareng sebagai warisan budaya tak benda agar mendapat pengakuan resmi.

Di tempat yang sama, Ketua RW 02 Babakan, Cucu Sudrajat, menjelaskan bahwa tradisi ini telah dilakukan sejak sekitar tahun 2005 dan tahun ini menjadi peringatan 20 tahun pelaksanaannya.

“Awalnya karena di sini ada Musala Al-Ittihad yang posisinya tepat di samping Kali Cisadane. Setiap ada kegiatan warga, selalu terpusat di situ. Dari situlah tradisi ini tumbuh dan terus dilakukan hingga sekarang,” tuturnya.

Cucu menyebutkan, sedikitnya 500 warga turut ambil bagian setiap tahunnya. Ia berharap tradisi tersebut dapat terus dilestarikan dan menjadi kebanggaan masyarakat Babakan.

“Kami sudah mengajukan ke Dinas Budaya dan Pariwisata agar bisa ditetapkan sebagai cagar budaya tak benda. Harapannya budaya ini terus berlangsung karena Kali Cisadane sangat bermanfaat bagi kehidupan warga, khususnya di RW 02,” pungkasnya.

Tradisi Keramas Bareng menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan, spiritualitas, dan kearifan lokal masih terjaga di tengah kehidupan masyarakat perkotaan. Menjelang Ramadhan, sungai bukan hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga saksi harmoni dan semangat persaudaraan warga Babakan.

Komentar