RASIOO.id – Kekecewaan menyelimuti kegiatan Tawa dan Doa yang digelar Badan Komunikasi Rakyat (BKR) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang, Rabu, 8 Juli 2026. Sejumlah kepala daerah yang diundang untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat tidak hadir hingga acara berakhir.
Forum yang dikemas melalui penampilan stand up comedy tersebut menghadirkan sejumlah komika, di antaranya Mega Salsabila, Mal Jupri, Pedro, dan Lutfi Hadi Maulana. Sejumlah influencer Kota Tangerang seperti Madun Osen (Nyak Komsah), Asmawi Sueb (Katababa), serta lainnya juga turut menyampaikan kritik dan aspirasi terkait kebijakan pemerintah.
Namun, dalam sesi tanggapan pemerintah, hanya perwakilan instansi yang hadir. Sementara Gubernur Banten Andra Soni, Sekretaris Daerah Provinsi Banten, Bupati Tangerang Maesyal Rasyid, Sekda Kabupaten Tangerang Soma Atmaja, hingga Wali Kota Tangerang Sachrudin tidak tampak menghadiri kegiatan tersebut.
Dosen pengampu mata kuliah Public Relations (PR) FISIP UNIS, Adib Miftahul, mengaku menyayangkan ketidakhadiran para pemangku kebijakan. Menurutnya, forum tersebut justru disiapkan sebagai ruang dialog antara masyarakat, khususnya generasi muda, dengan pemerintah.
“Yang paling berkepentingan seharusnya para pemangku kepentingan. Kami menghadirkan wadah agar setiap tawa mengandung doa dan kritik. Seharusnya mereka mendengar langsung keresahan publik yang disampaikan dengan cara yang santun dan berbasis data,” kata Adib kepada wartawan.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari praktik mata kuliah Public Relations yang bertujuan membangun komunikasi publik melalui penyampaian kritik secara konstruktif.
Menurutnya, penyampaian aspirasi lewat konsep roasting dan komedi menjadi pendekatan yang efektif karena mampu menyampaikan kritik tanpa menghilangkan substansi persoalan.
“Kritik bisa disampaikan dengan bercanda, tetapi pesannya tetap serius. Harapannya, suara anak muda ini menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pemerintah ke depan,” ujarnya.
Adib menambahkan, Badan Komunikasi Rakyat akan terus dikembangkan sebagai gerakan sosial mahasiswa yang berfungsi menjadi jembatan komunikasi sekaligus kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah, khususnya di Tangerang Raya dan Banten.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Syahdan Maulana, juga mengaku kecewa karena para kepala daerah tidak hadir untuk memberikan tanggapan secara langsung.
“Merasa kecewa, pasti merasa kecewa karena kita tentunya ingin mendengar langsung tanggapan dari mereka,” singkatnya.














Komentar