RASIOO.id – Awal Ramadan 1447 H diwarnai kabar duka. Tradisi “perang sarung” yang kerap dianggap permainan remaja justru berubah menjadi aksi berbahaya dan memakan korban jiwa di sejumlah daerah. Aparat kepolisian dan TNI kini meningkatkan patroli untuk mencegah tragedi serupa terulang.
Tragedi Maut di Grobogan
Peristiwa memilukan terjadi di Desa Termas, Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Rabu 25 Februari 2026. Seorang remaja 16 tahun berinisial ZMP meninggal dunia usai terlibat perang sarung di lapangan voli desa setempat.
Hasil penyelidikan menunjukkan korban terlibat duel satu lawan satu yang berujung kekerasan fisik serius. Polisi juga menemukan sarung yang ujungnya dibuat simpul keras untuk meningkatkan daya pukul.
Sebanyak enam remaja telah diamankan dan satu orang resmi ditetapkan sebagai tersangka. Aparat menegaskan bahwa aksi tersebut bukan lagi permainan, melainkan tindak kekerasan yang berujung pidana.
Korban di Getasan, Kabupaten Semarang
Insiden serupa juga terjadi di wilayah Getasan, Kabupaten Semarang. Seorang pelajar 13 tahun berinisial KWES dilaporkan meninggal dunia.
Korban diketahui berusaha melarikan diri dari lokasi perang sarung, namun mengalami kecelakaan saat berupaya kabur. Peristiwa ini semakin menambah daftar korban akibat tradisi negatif yang kerap muncul setiap Ramadan.
Video Penertiban Viral
Di tengah meningkatnya kasus, beredar video yang memperlihatkan ketegasan aparat TNI saat menggagalkan perang sarung di wilayah Sumpiuh dan Kedungpring, Kabupaten Banyumas.
Dalam rekaman tersebut, personel TNI melakukan patroli malam dan mengamankan sejumlah remaja yang kedapatan membawa sarung lilit. Langkah cepat ini diapresiasi masyarakat sebagai upaya pencegahan sebelum jatuh korban.
Ancaman Pidana Berat
Pihak kepolisian mengingatkan bahwa pelaku tawuran atau pengeroyokan dapat dijerat Pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara. Patroli rutin kini digencarkan selepas salat Tarawih hingga menjelang sahur di berbagai titik rawan.
Aparat juga mengimbau orang tua untuk memperketat pengawasan terhadap anak-anak mereka. Ramadan seharusnya menjadi bulan ibadah dan refleksi diri, bukan ajang kekerasan yang merenggut masa depan generasi muda.
Tragedi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak bahwa perang sarung bukan lagi sekadar tradisi main-main, melainkan potensi ancaman nyata yang bisa berujung maut









Komentar