RASIOO. id – Ramadan selalu menghadirkan keistimewaan di setiap malamnya. Salah satu yang paling sering dikaji di berbagai pesantren di Indonesia adalah keutamaan sholat tarawih berdasarkan kitab klasik Durratun Nashihin karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir al-Khaubawiyyi.
Dalam kitab tersebut, malam ke-14 Ramadhan disebut memiliki fadhilah yang istimewa bagi umat Islam yang menunaikan sholat tarawih dengan sungguh-sungguh.
Disebutkan, pada malam ke-14:
Pertama, Persaksian Malaikat.
Orang yang melaksanakan sholat tarawih akan didatangi para malaikat. Mereka bersaksi di hadapan Allah SWT bahwa hamba tersebut telah menegakkan ibadah malam di bulan suci.
Kedua, Dibebaskan dari Hisab.
Berkat persaksian para malaikat itu, Allah SWT disebut tidak akan menghisabnya secara rinci atas amal-amal buruknya pada hari kiamat.
Ketiga, Jaminan Masuk Surga.
Karena tidak melalui hisab yang berat, ia mendapatkan kemudahan untuk masuk ke dalam surga Allah SWT.
Keutamaan per malam seperti ini sangat populer di kalangan pesantren dan majelis taklim di Indonesia. Kitab Durratun Nashihin sendiri memang dikenal luas sebagai rujukan nasihat dan motivasi ibadah, khususnya di bulan Ramadhan.
Namun demikian, para ulama juga mengingatkan bahwa riwayat tentang keutamaan spesifik setiap malam tarawih tidak seluruhnya bersumber dari hadits shahih. Secara umum, keutamaan sholat tarawih atau qiyam Ramadhan yang disebutkan dalam hadits shahih adalah pengampunan dosa-dosa yang telah lalu bagi siapa saja yang menunaikannya dengan iman dan mengharap ridha Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, siapa yang menghidupkan malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Karena itu, terlepas dari perbedaan pandangan mengenai detail fadhilah tiap malam, semangat utama Ramadhan tetaplah sama: memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.
Malam ke-14 pun menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali menguatkan niat dan menjaga konsistensi tarawih hingga akhir Ramadhan — bukan semata mengejar keutamaan tertentu, tetapi meraih ampunan dan cinta Allah secara menyeluruh.
Kalau mau, saya bisa buatkan juga versi yang lebih singkat untuk media sosial atau dengan gaya yang lebih provokatif dan headline yang lebih “nendang”.









Komentar