RASIOO.id — Ketua DPRD Kota Tangerang, Rusdi, memaparkan gambaran besar tantangan pembangunan yang akan dihadapi pada 2027. Dalam forum Musrenbang RKPD, ia menyoroti sejumlah isu krusial yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah serius—mulai dari transportasi yang belum terintegrasi, persoalan sampah, hingga keterbatasan anggaran daerah.
Salah satu sorotan utama adalah belum optimalnya dampak keberadaan Bandara Soekarno-Hatta terhadap pertumbuhan kota. Meski menjadi salah satu bandara tersibuk di Indonesia, Rusdi menilai integrasinya dengan pembangunan Kota Tangerang masih belum terkonsep dengan matang.
“Bandara ada di wilayah kita, tapi dampaknya terhadap pertumbuhan kota belum jelas. Perlu rumusan integrasi yang konkret,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya pendekatan pembangunan yang tidak parsial, melainkan melihat keterkaitan kawasan yang lebih luas seperti Tangerang Raya hingga Jabodetabek, agar potensi wilayah dapat dimaksimalkan.
Di sisi lain, Rusdi juga mengingatkan adanya penurunan kualitas lingkungan yang semakin terasa. Ia menyoroti berkurangnya ruang terbuka dan menurunnya kualitas air yang berdampak langsung pada kehidupan generasi muda saat ini.
“Anak-anak sekarang tumbuh di lingkungan yang berbeda. Ruang bermain semakin sempit, kualitas air menurun. Ini harus jadi perhatian dalam setiap kebijakan,” ujarnya.
Masalah sampah turut menjadi perhatian serius. Rusdi mendorong perubahan sistem pengelolaan yang dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga. Ia juga membuka peluang pemanfaatan teknologi, termasuk aplikasi digital, untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan.
“Pemilahan sampah dari rumah harus diperkuat. Teknologi bisa jadi solusi untuk mendukung sistem ini,” tambahnya.
Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Dari sisi anggaran, lebih dari 60 persen APBD Kota Tangerang masih terserap untuk pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan belanja pegawai. Kondisi ini membuat ruang fiskal untuk pembangunan ekonomi dan infrastruktur menjadi terbatas.
“Akibatnya, program strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tidak bisa maksimal,” jelas Rusdi.
Ia menegaskan perlunya keseimbangan antara pemenuhan layanan dasar dan penguatan ekonomi masyarakat. Dengan begitu, daya beli masyarakat dapat meningkat dan berdampak pada pertumbuhan kota secara keseluruhan.
Selain faktor internal, kondisi ekonomi global juga disebut turut memengaruhi pendapatan daerah. Oleh karena itu, perencanaan pembangunan harus realistis dan adaptif terhadap dinamika yang ada.
Sebagai solusi atas keterbatasan anggaran, Rusdi mendorong seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk lebih proaktif mengakses program dari pemerintah pusat.
“Tidak semua bisa bergantung pada APBD. Kita harus jemput bola ke program pusat,” pungkasnya.
Dengan berbagai tantangan tersebut, Rusdi berharap arah pembangunan Kota Tangerang ke depan semakin jelas, terukur, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, tanpa mengabaikan keseimbangan antara pertumbuhan kota dan kualitas lingkungan.















Komentar