Darurat Sampah Popok di Bogor,Wali Kota Bogor Dedie A Rachim Desak Industri Turun Tangan Atasi Krisis Lingkungan

RASIOO.id — Persoalan sampah di Kota Bogor kian memprihatinkan, terutama jenis sampah popok bayi yang jumlahnya terus meningkat dan sulit terurai. Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, secara tegas meminta peran aktif industri untuk ikut membantu mengatasi persoalan ini.

Menurut Dedie, sampah popok menjadi salah satu jenis limbah paling bermasalah karena mengandung material seperti gel dan styrofoam yang tidak mudah terurai di alam.

“Saya pikir yang paling memprihatinkan itu popok bayi. Ini tidak mudah terurai dan jumlahnya sangat banyak,” ujarnya.

Selain popok, ia juga menyoroti meningkatnya sampah kemasan sekali pakai seperti bungkus mi instan, kopi sachet, hingga makanan ringan anak-anak yang memperparah kondisi lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Dedie mengimbau industri pengolah makanan dan minuman untuk ikut bertanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan.

“Kami mengajak industri untuk membantu masyarakat, misalnya dengan menyiapkan sistem pemilahan sejak awal hingga mekanisme distribusi sampah ke fasilitas pengolahan seperti Waste to Energy (WTE),” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan harus dimulai dari sumbernya, baik rumah tangga, sekolah, maupun instansi.

“Ke depan, sampah harus selesai di tempat asalnya. Dari rumah tangga, dari sekolah, dari kantor—semuanya harus mulai memilah,” katanya.

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kota Bogor tengah menyiapkan sistem pemilahan sampah berbasis rumah tangga dengan empat kategori utama. Yakni sisa makanan, residu seperti popok dan pembalut, sampah plastik, serta logam atau kaleng.

Dengan sistem ini, sampah organik diharapkan dapat diolah menjadi pupuk, sementara sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan karton bisa didaur ulang atau dijual kembali.

Dedie juga mendorong masyarakat untuk mulai menerapkan metode sederhana seperti biopori di rumah masing-masing guna mengolah sampah organik.

“Kalau ini bisa dilakukan bersama, kita bisa mengurangi beban sampah secara signifikan. Tapi ini butuh konsistensi, tidak boleh setengah-setengah,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan bahwa perubahan perilaku adalah kunci utama dalam menyelesaikan persoalan sampah yang terus meningkat.

“Kita harus terus bergerak, tidak boleh patah semangat. Kesadaran itu harus dibangun bersama,” pungkasnya.

Komentar