RASIOO.id – Rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di wilayah Kayumanis, Kota Bogor, mulai memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Dalam forum sosialisasi yang digelar di Mushola Albarokah, Jumat 8 Mei 2026, warga menyampaikan sejumlah keresahan terkait dampak operasional proyek strategis nasional tersebut.
Suasana diskusi berlangsung hangat ketika warga RW 06 Kayumanis menyampaikan langsung berbagai potensi persoalan yang mereka khawatirkan akan muncul apabila proyek PSEL mulai beroperasi.
Ketua Karang Taruna RW 06, Aden, menjadi salah satu warga yang paling vokal menyuarakan aspirasi masyarakat. Ia menegaskan bahwa wilayah RW 06 nantinya akan menjadi jalur utama keluar masuk armada pengangkut sampah menuju lokasi PSEL.
Menurutnya, warga tidak hanya memikirkan pembangunan fasilitasnya, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kenyamanan hidup masyarakat sekitar.
“Yang kami khawatirkan adalah dampak operasionalnya, terutama bau dari truk sampah yang melintas. Jika sampah dari seluruh Kota Bogor masuk ke sini, tentu dampaknya sangat terasa,” ujar Aden di hadapan perwakilan pemerintah dan warga lainnya.
Aden juga menyoroti kondisi armada pengangkut sampah yang selama ini dinilai kerap melebihi kapasitas muatan. Akibatnya, air lindi atau cairan sampah sering berceceran di jalan dan menimbulkan bau tidak sedap di sekitar permukiman warga.
Kekhawatiran lain yang disampaikan masyarakat yakni ancaman terhadap kualitas udara dan air sumur warga apabila pengelolaan sampah tidak dilakukan secara maksimal.
Warga pun mempertanyakan sejauh mana pemerintah mampu menjamin bahwa sistem pengangkutan dan pengelolaan sampah di Kayumanis benar-benar menggunakan teknologi modern seperti yang diterapkan di negara maju.
Menanggapi keresahan tersebut, Pemerintah Kota Bogor melalui Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Setiawati, memastikan bahwa proyek PSEL dirancang dengan standar internasional dan pengawasan ketat dari pemerintah pusat.
Menurutnya, fasilitas PSEL yang akan dibangun bukan sekadar tempat pengolahan sampah biasa, melainkan bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) dengan sistem teknologi modern dan mitigasi lingkungan yang ketat.
“Kami menggunakan standar dunia. Di fasilitas serupa di luar negeri, area bunker pun tidak berbau karena sistemnya tertutup dan terkomputerisasi,” jelas Setiawati.
Ia juga memastikan bahwa seluruh armada pengangkut sampah nantinya diwajibkan menggunakan truk bertipe compactor atau tertutup rapat sehingga tidak ada sampah maupun air lindi yang tercecer di jalanan.
Selain itu, pemerintah menjanjikan adanya sistem pemantauan kualitas lingkungan secara transparan yang dapat diakses masyarakat.
DLH Kota Bogor berencana memasang alat pemantau parameter pencemaran udara di area proyek. Nantinya, masyarakat dapat melihat langsung kondisi kualitas udara melalui indikator warna pada monitor pemantauan yang disediakan di lokasi.
Pemerintah menegaskan bahwa operasional PSEL harus tetap berada dalam ambang batas aman sesuai standar baku mutu internasional.
Setiawati juga menyebut proyek senilai Rp1,6 triliun tersebut berada di bawah pengawasan lintas kementerian, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kementerian Keuangan.
Pengawasan itu dilakukan agar seluruh proses pembangunan hingga operasional PSEL berjalan sesuai aturan dan mampu menjawab kekhawatiran warga terkait dampak lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, warga berharap pemerintah tidak hanya memberikan janji teknologi modern, tetapi juga benar-benar melibatkan masyarakat dalam pengawasan agar lingkungan Kayumanis tetap aman dan nyaman untuk ditinggali.















Komentar