RASIOO.id — Perjalanan sebuah bisnis besar sering kali dimulai dari langkah kecil dan penuh perjuangan. Kisah itu kini dibuktikan oleh Maulita Putri Darmawati, perempuan muda asal Bogor yang berhasil membawa usaha yoghurt rumahan milik keluarganya berkembang pesat hingga memiliki belasan karyawan dan menembus pasar modern Jabodetabek.
Di usia 25 tahun, Maulita kini dipercaya menjadi General Manager brand susu olahan lokal bernama Yess Yoghurt. Namun siapa sangka, bisnis yang kini berkembang itu dulunya hanya usaha kecil rumahan yang dirintis sang ibu sejak dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Bahkan saat masih SMA, Maulita ikut turun tangan membantu penjualan dengan membawa langsung produk susu yoghurt ke sekolah dan menawarkannya kepada teman-teman.
“Dulu waktu SMA ruang produksi masih kecil. Kami mulai trial dari 5 liter, lalu naik ke 10 liter hingga bertahap ke 20 liter,” kenangnya.
Perjuangan panjang itu perlahan membuahkan hasil. Kini kapasitas produksi Yess Yoghurt melonjak drastis mencapai rata-rata 100 liter per hari dan bisa menyentuh hingga 300 liter saat permintaan pasar meningkat.
Titik balik terbesar bisnis keluarga ini terjadi pada tahun 2021 ketika mereka memutuskan membangun rumah produksi yang lebih layak demi memenuhi standar legalitas dari BPOM.
Momentum tersebut bertepatan dengan masa pensiun kedua orang tua Maulita, sehingga fokus pengembangan bisnis bisa dilakukan secara maksimal.
Perlahan namun pasti, strategi pemasaran mereka mulai berkembang. Jika sebelumnya produk hanya dipasok secara terbatas ke dua gerai Apotek Roxy, kini Yess Yoghurt sudah tersedia di 45 cabang Apotek Roxy di wilayah Jabodetabek.
“Sekarang di setiap store Apotek Roxy kami sediakan satu freezer khusus untuk produk kami dengan pengiriman rutin sebulan sekali,” ujarnya.
Tak hanya itu, produk lokal asal Bogor tersebut juga sudah masuk ke sejumlah gerai di kawasan Bogor seperti Pasir Kuda hingga pusat oleh-oleh Lapis Talas Sangkuriang.
Saat ini, Yess Yoghurt juga tengah mengejar kepemilikan Nomor Kontrol Veteriner (NKV) sebagai syarat utama untuk bisa melakukan ekspansi ke jaringan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret.
Produk yoghurt mereka hadir dalam kemasan 250 ml dengan harga Rp15 ribu dan memiliki berbagai varian rasa favorit seperti leci, mangga, stroberi, dan melon.
Di balik pertumbuhannya, Maulita juga menceritakan pengalaman unik yang sempat terjadi saat tim mereka mencoba memperbarui desain kemasan agar terlihat lebih modern.
Alih-alih mendapat respons positif, pelanggan loyal justru mengira produk tersebut palsu karena terlalu terbiasa dengan desain botol lama yang sudah melekat di ingatan mereka.
“Banyak yang mengira itu produk KW karena kemasannya berubah. Akhirnya kami tetap mempertahankan desain lama demi menjaga kepercayaan pelanggan,” katanya sambil tertawa.
Sebagai produk segar tanpa bahan pengawet berlebih, Yess Yoghurt memiliki standar penyimpanan yang cukup ketat. Produk bisa bertahan hingga satu tahun dalam freezer, satu bulan di chiller, dan harus segera dihabiskan kurang dari enam jam setelah kemasan dibuka.
Di sisi lain, tantangan bisnis juga datang dari ketersediaan bahan baku susu murni, terutama menjelang Hari Raya Idul Adha.
Maulita menjelaskan, fenomena “kering kandang” sering terjadi karena banyak peternak mengalihkan fokus pakan untuk sapi pedaging sehingga produksi susu menurun drastis.
Untuk menjaga kualitas, perusahaan bekerja sama dengan dua mitra peternak susu dan menerapkan standar kualitas ketat sesuai SNI.
“Kami hanya menerima susu dengan tingkat keasaman atau pH di angka 6 sampai 6,8. Kalau di luar itu pasti kami tolak,” tegasnya.
Kini, dengan dukungan 15 karyawan tetap, sistem pencatatan modern berbasis komputer (POS), serta penerapan SOP kerja yang ketat, Yess Yoghurt semakin optimistis melangkah menuju pasar nasional.
Perjalanan Maulita dan keluarganya menjadi bukti bahwa produk lokal yang dimulai dari dapur rumah pun bisa tumbuh besar, bersaing, dan menjadi kebanggaan daerah jika dijalankan dengan konsistensi, kualitas, dan inovasi.









Komentar