Tangerang Darurat Sampah! Pemkot Siapkan Strategi Besar Atasi 1.600 Ton Sampah per Hari

RASIOO.ID  – Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus mematangkan strategi besar penanganan sampah untuk mengatasi timbulan sampah yang mencapai sekitar 1.600 ton per hari. Langkah tersebut dilakukan secara terintegrasi mulai dari tingkat masyarakat hingga pemanfaatan teknologi modern di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing.

Kepala DLH Kota Tangerang, Wawan Fauzi, menegaskan bahwa penguatan pengelolaan sampah dari hulu menjadi fokus utama. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperbanyak jumlah bank sampah di lingkungan permukiman.

Saat ini, Kota Tangerang memiliki sekitar 100 bank sampah yang tersebar di berbagai wilayah. Namun pada tahun 2026, DLH menargetkan peningkatan signifikan dengan menambah jumlah bank sampah hingga dua kali lipat.

“Target minimal tahun ini setiap kelurahan memiliki dua bank sampah yang aktif. Ke depan, kami berharap setiap RW memiliki satu bank sampah sehingga pengelolaan sampah dari sumbernya bisa jauh lebih efektif,” ujar Wawan, Kamis 4 Juni 2026.

Untuk mendorong partisipasi masyarakat, Pemkot Tangerang menyiapkan berbagai insentif bagi kelompok warga yang membentuk dan mengelola bank sampah. Selain memperoleh keuntungan dari hasil penjualan sampah anorganik, pengelola juga akan mendapatkan pembinaan dan bantuan insentif dari pemerintah setelah menjalankan program secara konsisten.

Menurut Wawan, pembentukan bank sampah dapat diawali melalui pengajuan kelompok masyarakat kepada kelurahan setempat. Setelah mendapatkan Surat Keputusan (SK), DLH akan memberikan pendampingan, pelatihan, hingga menghubungkan pengelola dengan pembeli atau offtaker.

“Kami ingin mengubah mindset masyarakat bahwa sampah bukan sekadar limbah, tetapi memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik,” jelasnya.

Selain memperkuat pengelolaan di tingkat masyarakat, DLH juga mengembangkan sistem penanganan sampah pada zona tengah melalui pembangunan dan revitalisasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) serta TPS3R.

Beberapa proyek yang tengah berjalan antara lain revitalisasi TPS Dongkal, pembangunan TPS3R di Neglasari, serta pengembangan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dan insinerator untuk mengurangi volume sampah sebelum masuk ke TPA.

Sementara itu, untuk penanganan di hilir, Pemkot Tangerang mengandalkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang ditargetkan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari.

Tak hanya itu, pemerintah juga tengah menyesuaikan pengelolaan TPA Rawa Kucing dengan instruksi pemerintah pusat yang mewajibkan seluruh TPA beralih dari sistem open dumping menjadi controlled landfill pada Agustus mendatang.

Berbagai langkah telah disiapkan, mulai dari penutupan permukaan sampah (capping), penangkapan gas metana, regulasi pemilahan sampah wajib, hingga penjajakan kerja sama dengan pihak swasta untuk landfill mining atau pemanfaatan sampah lama menjadi bahan bakar.

Di sisi lain, pengawasan kebersihan lingkungan juga diperkuat melalui pelimpahan kewenangan kepada kecamatan dan kelurahan, termasuk penyediaan armada bentor sampah dengan target dua unit di setiap kelurahan.

Meski demikian, Wawan menegaskan keberhasilan program tersebut tetap bergantung pada peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mencegah munculnya tempat pembuangan sampah liar.

“Kami tidak bisa mengawasi seluruh wilayah setiap saat. Jika warga menemukan TPS liar, segera laporkan kepada kelurahan, kecamatan, atau melalui kanal pengaduan DLH agar segera ditindaklanjuti,” tegasnya.

Sebagai bentuk komitmen menjaga kebersihan kota, Pemkot Tangerang juga menyiapkan sanksi tegas bagi pelaku pembuangan sampah sembarangan. Namun pendekatan persuasif dan kolaboratif tetap menjadi prioritas agar kesadaran masyarakat terus meningkat.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Tangerang optimistis mampu menekan volume sampah sekaligus mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang modern, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

Komentar