PP IPPNU Bentuk Satgas Teman Sebaya Deteksi Dini Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan

RASIOO.id – PP Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) resmi meluncurkan program “Teman Sebaya” sebagai langkah konkret memutus mata rantai kekerasan seksual dan perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan, termasuk pondok pesantren.

Peluncuran program tersebut digelar di Pondok Pesantren As-Shiddiqiyyah, Kota Tangerang, Sabtu, 6 Juni 2026, sebagai respons atas maraknya kasus kekerasan yang mencoreng dunia pendidikan dalam beberapa waktu terakhir.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) IPPNU, Whasfi Velasufah, mengatakan program ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap meningkatnya kasus kekerasan di lembaga pendidikan.

Pada Mei 2026 saja, sedikitnya tercatat lima kasus kekerasan besar yang mencuat di sejumlah daerah seperti Lombok, Pekalongan, hingga Pati.

“IPPNU memiliki mandat moral untuk hadir memberikan solusi. Lewat program Teman Sebaya ini, fokus utama kami adalah pada aspek pencegahan dini melalui skema Early Warning System (EWS) atau deteksi dini,” ujar Whasfi usai peluncuran program.

Menurutnya, pendekatan teman sebaya dipilih karena sesuai dengan karakteristik psikologis santri dan pelajar generasi Z yang cenderung lebih nyaman berbagi cerita dengan teman dibandingkan pengasuh maupun orang tua.

“Ketika ada santri yang mengalami tekanan, orang pertama yang mengetahui biasanya adalah temannya. Karena itu, teman sebaya harus dibekali keterampilan agar tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga peka secara emosional dan psikologis terhadap perubahan sikap temannya,” jelasnya.

Melalui program tersebut, para santri akan dilatih menjadi pendengar yang aman, mampu mendengarkan tanpa menghakimi, serta dapat mengarahkan korban ke kanal pelaporan yang tepat apabila terjadi kekerasan atau perundungan.

Untuk memperluas implementasi program, PP IPPNU akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus yang tersebar di 30 pimpinan wilayah tingkat provinsi dan 340 pimpinan cabang tingkat kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Tahap awal program akan dimulai melalui kegiatan Training of Trainer (TOT) di tingkat pusat, yang kemudian diteruskan secara berjenjang ke daerah.

IPPNU menargetkan mampu mencetak sedikitnya 10 ribu kader satgas terlatih dari internal organisasi. Whasfi menegaskan, satgas tersebut berfokus pada upaya pencegahan dan deteksi dini, bukan mengambil alih peran tenaga profesional.

“Jika ditemukan korban kekerasan, satgas akan mendampingi dan membantu mengarahkan proses pelaporan. Untuk internal pondok diarahkan kepada pengasuh, sedangkan untuk penanganan eksternal akan dihubungkan dengan Komisi Perlindungan Anak, dinas terkait, kepolisian, lembaga bantuan hukum, hingga layanan psikolog klinis atau dokter kesehatan jiwa apabila korban mengalami trauma berat,” paparnya.

Whasfi menambahkan, Pondok Pesantren As-Shiddiqiyyah dipilih sebagai lokasi peluncuran karena dinilai memiliki posisi strategis dengan 11 cabang yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari perkotaan hingga pelosok.

“As-Shiddiqiyyah menjadi barometer pesantren yang adaptif dan terbuka terhadap gerakan antikekerasan. Kami ingin membangun kepercayaan publik bahwa pondok pesantren adalah ruang yang aman, sehat, dan mendukung perlindungan santri,” pungkasnya.

PP IPPNU memastikan gerakan ini akan digelorakan secara serentak di seluruh lini kepengurusan di Indonesia guna menciptakan ruang belajar yang aman dan inklusif bagi seluruh santri putri.

Komentar