RASIOO.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mempertegas komitmennya dalam memerangi stunting dengan mengusung target “Zero New Stunting”, yakni tidak ada lagi kasus baru tengkes yang muncul di Kota Hujan. Strategi ini tidak hanya berfokus pada pemulihan anak yang telah mengalami stunting, tetapi juga mencegah lahirnya kasus-kasus baru melalui deteksi dini dan intervensi yang lebih cepat.
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengatakan upaya penanganan stunting kini diarahkan pada validasi data yang akurat serta langkah pencegahan yang menyentuh langsung keluarga berisiko.
Berdasarkan hasil Bulan Penimbangan Balita pada Desember 2025, tercatat sebanyak 1.491 balita mengalami stunting. Berkat pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh pemerintah bersama aparatur wilayah, 512 anak di antaranya berhasil keluar dari status stunting.
“Jangan sampai angka yang sudah diintervensi ini turun, tetapi muncul balita stunting baru dari keluarga yang belum tersentuh. Karena itu target kita adalah Zero New Stunting,” ujar Jenal saat meninjau kegiatan penanganan stunting di Kelurahan Babakan Pasar, Selasa (30/6/2026).
Ia menjelaskan, data terbaru mengenai kondisi balita di Kota Bogor akan kembali diperbarui pada Bulan Penimbangan Balita yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang. Menurutnya, pembaruan data menjadi langkah penting agar setiap intervensi benar-benar tepat sasaran.
Dalam mencapai target tersebut, Pemkot Bogor juga menggandeng berbagai pihak di luar pemerintah. Yayasan, dunia usaha, para dermawan, hingga komunitas terus dilibatkan untuk membantu pemenuhan gizi balita melalui pemberian makanan bergizi secara rutin.
Salah satu mitra yang mendapat apresiasi adalah Yayasan Harapan Bangsa Lentera Mandiri yang sejak 2017 aktif mendampingi keluarga di Kelurahan Babakan Pasar dalam upaya meningkatkan status gizi anak.
Untuk memperkuat pengawasan, Pemkot Bogor juga memanfaatkan aplikasi digital Besti (Bebas Stunting) yang mulai digunakan sejak Januari 2026. Melalui aplikasi tersebut, perkembangan berat badan, tinggi badan, hingga pemenuhan gizi balita dapat dipantau secara berkala oleh kader, tenaga kesehatan, maupun para donatur.
Jenal turut menginstruksikan seluruh lurah, kader Posyandu, serta tim Bunda Peduli Stunting agar lebih aktif melakukan jemput bola ke lingkungan warga. Langkah ini dilakukan untuk mendeteksi sedini mungkin balita yang mengalami gangguan pertumbuhan sehingga penanganan dapat segera diberikan sebelum berkembang menjadi kasus stunting.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci utama agar Kota Bogor tidak hanya mampu menurunkan angka stunting, tetapi juga benar-benar menghentikan munculnya kasus baru di masa mendatang.














Komentar