Sawit Jadi Rebutan Food, Feed, dan Fuel, Herman Khaeron Biofuel Kunci Kurangi Ketergantungan Impor BBM

RASIOO.id – Minyak kelapa sawit kini tidak lagi hanya menjadi komoditas andalan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan industri. Seiring meningkatnya permintaan energi terbarukan di berbagai negara, sawit kini memasuki babak baru sebagai komoditas strategis yang diperebutkan untuk tiga sektor sekaligus, yakni food (pangan), feed (pakan ternak), dan fuel (bahan bakar).

Persaingan pemanfaatan sawit di tiga sektor tersebut diperkirakan akan memengaruhi keseimbangan pasokan dan harga, baik di pasar domestik maupun internasional. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan agar kebutuhan pangan, industri, dan energi dapat berjalan beriringan tanpa saling mengorbankan.

Di tengah tantangan tersebut, pemanfaatan sawit sebagai bahan baku biofuel dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan bakar fosil membutuhkan alternatif energi yang dapat diproduksi dari sumber daya dalam negeri.

Dewan Pembina ASBENINDO sekaligus Ketua Umum MPPI, Herman Khaeron, menegaskan bahwa pemanfaatan sawit untuk sektor energi harus menjadi prioritas mengingat Indonesia hingga kini masih berstatus sebagai net importer bahan bakar berbasis fosil.

“Prioritasnya adalah untuk fuel karena kita sekarang net importer. Net importer terhadap fuel yang berbasiskan fosil,” ujar Herman Khaeron saat menghadiri pengukuhan pengurus dan rapat kerja ASBENINDO di Kota Bogor, Rabu (1/7/2026).

Ia menjelaskan, produksi minyak mentah Indonesia saat ini masih jauh dari kebutuhan nasional. Lifting minyak mentah hanya berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi nasional telah mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.

“Minyak mentah kita lifting-nya hanya 600.000 barel per hari, sedangkan kebutuhannya mencapai 1,5 juta barel per hari. Artinya, kita masih harus mengimpor dalam jumlah yang besar,” jelasnya.

Menurut Herman, kondisi tersebut menjadi alasan kuat mengapa Indonesia perlu mempercepat diversifikasi energi melalui pemanfaatan biofuel berbasis kelapa sawit. Langkah tersebut dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas sawit nasional.

“Prinsipnya, ini merupakan proses diversifikasi energi. Dahulu kita bergantung pada fossil fuel, sekarang mulai beralih ke biofuel yang berbasis sawit. Ini merupakan langkah yang harus terus didukung bersama,” katanya.

Ia berharap kebijakan pengembangan biofuel dapat berjalan secara konsisten sehingga mampu menekan impor energi, memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus tetap menjaga keseimbangan kebutuhan sawit untuk sektor pangan dan industri.

Dengan potensi produksi sawit yang dimiliki Indonesia sebagai salah satu yang terbesar di dunia, pemerintah dinilai perlu menerapkan kebijakan yang tepat agar komoditas strategis tersebut dapat memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian nasional tanpa mengganggu stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.

Komentar