Tangis Ibu Korban Dugaan Penipuan Loker ABK Pecah Kami Disandera Diperas Pulang Berbekal Uluran Tangan Warga

RASIOO.id – Kisah pilu dialami enam warga Kota Bogor yang menjadi korban dugaan penipuan lowongan kerja Anak Buah Kapal (ABK). Setelah berhasil lolos dari penampungan di Kabupaten Indramayu, mereka akhirnya bisa kembali ke Bogor berkat bantuan warga dan seorang pengurus masjid yang merasa iba terhadap kondisi mereka.

Salah satu korban, DN (50), ibu dari W (36), mengaku masih trauma mengingat pengalaman yang dialaminya selama dua hari berada di sebuah rumah penampungan ABK di Desa Parean Girang, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu.

Sebelumnya, tiga pemuda asal Kelurahan Sindang Barang, Kecamatan Bogor Barat, yakni W (36), IE (27), dan RP (16) berangkat pada Minggu 2 Agustus 2026 setelah tergiur tawaran pekerjaan sebagai ABK yang mereka temukan melalui Facebook. Namun sesampainya di lokasi, mereka mengaku justru diperas dan tidak diizinkan pulang sebelum membayar uang tebusan.”Selama dua hari saya tidak bisa tidur karena sangat ketakutan. Kami juga kelaparan,” ujar DN kepada wartawan, Selasa (4/8/2026).

DN menceritakan, dirinya bersama para korban lain harus tidur beralaskan lantai bersama puluhan calon pekerja lain yang berada di penampungan tersebut.”Saya sampai menangis karena bingung harus bagaimana. Saat akhirnya berhasil keluar, saya hampir pingsan dan sempat jatuh dua kali di jalan karena sudah sangat lemas,” katanya.

Bertahan Hidup dari Belas Kasihan Warga

Setelah berhasil meninggalkan lokasi penampungan, DN mengaku mereka hanya mampu duduk di tepi jalan sambil menangis. Mereka tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli makanan ataupun ongkos pulang ke Bogor.

Dalam kondisi lemas, mereka akhirnya memberanikan diri meminta pertolongan kepada warga sekitar dan pengendara ojek yang melintas.”Ada warga yang iba lalu memberi kami uang Rp10 ribu sampai Rp20 ribu. Bantuan kecil itu sangat berarti karena kami benar-benar tidak punya apa-apa,” ungkapnya.

Berlindung di Masjid

DN mengaku sempat berniat mendatangi kantor polisi. Namun, karena merasa takut dan khawatir situasi semakin rumit, mereka memilih mencari perlindungan di Masjid Besar Attaqwa.

Di masjid tersebut, mereka bertemu seorang pengurus yang akrab disapa Pak Haji.”Beliau mendengarkan cerita kami, memberi makan, lalu mempersilakan kami beristirahat di aula masjid,” ujar DN.

Meski sudah berada di tempat yang lebih aman, rasa takut belum juga hilang. DN mengaku masih melihat orang-orang yang diduga berkaitan dengan penampungan tersebut mengawasi mereka dari kejauhan.

Mengaku Didatangi Calo

Menurut DN, keesokan harinya seorang pria yang disebut sebagai calo awal keberangkatan dari Bogor datang menemui mereka.

Alih-alih membantu, pria tersebut justru disebut meminta bagian uang sebesar Rp500 ribu.”Kami merasa benar-benar diperas dari berbagai pihak. Bukannya membantu, dia malah menagih jatahnya,” tuturnya.

Tak Berani Naik Mobil yang Disiapkan

Saat pengurus masjid berusaha mencarikan kendaraan agar mereka bisa pulang, rasa trauma kembali menghantui.

DN mengaku terkejut karena sopir travel yang datang memiliki wajah yang sangat mirip dengan salah satu orang yang menurut pengakuannya berada di lokasi penampungan.

Belakangan diketahui sopir tersebut merupakan saudara kembar dari orang yang dimaksud.”Saya tetap menolak naik mobil itu karena takut dibawa kembali atau terjadi sesuatu di tengah jalan,” katanya.

Pulang Berkat Bantuan Pengurus Masjid

DN mengatakan pengurus masjid akhirnya memberikan bantuan pribadi sebesar Rp200 ribu ditambah Rp100 ribu dari tabungannya. Sementara kekurangan biaya perjalanan ditutupi dari sumbangan warga sekitar.

Berkat bantuan tersebut, mereka berhasil menyewa kendaraan hingga Cileungsi sebelum melanjutkan perjalanan menuju Terminal Baranangsiang, Kota Bogor.”Kami sangat bersyukur. Bahkan ongkos perjalanan terakhir ke Bogor juga masih ada yang membantu membayarkan,” ujarnya.

Trauma Mendalam

Meski telah kembali ke rumah, DN mengaku masih dihantui rasa takut.

Ia menegaskan tidak mengalami kekerasan fisik selama berada di penampungan. Namun menurutnya, tekanan psikologis, ancaman, serta tuntutan uang tebusan membuat dirinya merasa seperti disandera.”Saya memang tidak dipukul, tetapi kami diperas dan tidak boleh pulang sebelum membayar. Saya sampai tidak bisa tidur karena ketakutan,” ucapnya.

DN juga mengaku mereka hanya diberi makanan dan minuman dalam jumlah yang sangat terbatas selama perjalanan maupun berada di penampungan.”Saat kami menolak berangkat bekerja karena merasa tertipu, mereka marah dan mengatakan kami tidak boleh pulang kalau tidak membayar ganti rugi,” katanya.

Peristiwa tersebut kini meninggalkan trauma mendalam bagi para korban. Mereka berharap tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban modus serupa dengan iming-iming pekerjaan melalui media sosial.

Catatan Redaksi: Seluruh keterangan dalam berita ini merupakan pengakuan para korban. Hingga berita ini diterbitkan, RASIOO.id belum memperoleh konfirmasi dari pihak yang disebut dalam pengakuan korban maupun aparat kepolisian terkait dugaan penipuan, penyanderaan, dan pemerasan tersebut.

Komentar

Rekomendasi Untuk Anda