RASIOO.id – Festival Merah Putih (FMP) 2026 Kota Bogor tak ingin berhenti sebagai perayaan seremonial. Tahun ini, rangkaian FMP menghadirkan sebuah gerakan yang diharapkan bisa tumbuh menjadi sumber kemandirian ekonomi bagi rumah ibadah.
Program tersebut berupa wakaf pohon alpukat varietas Mickey yang akan ditanam di rumah ibadah dan fasilitas sosial di berbagai wilayah Kota Bogor.Penanaman perdana dilakukan secara simbolis di Masjid Agung Kota Bogor, Sabtu 8 Agustus 2026.
Ketua Panitia FMP 2026, Syahril M. Said, mengatakan program tersebut sengaja dirancang agar semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui berbagai kegiatan, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk program yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Hari ini kita mulai seremonial tanam alpukat di seluruh Kota Bogor. Jadi programnya adalah wakaf pohon alpukat untuk rumah ibadah dan tempat sosial,” ujar Syahril.
Dari Pohon, Tumbuh Kemandirian
Pemilihan alpukat varietas Mickey bukan tanpa alasan. Syahril menyebut kondisi iklim dan ketinggian wilayah Kota Bogor dinilai cocok untuk pengembangan tanaman tersebut.
Menurut dia, alpukat Mickey yang dikembangkan dari Depok memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan, baik dari sisi kualitas buah maupun nilai jualnya.
“Kenapa harus alpukat? Karena Kota Bogor dari iklim dan ketinggian lahan sangat ideal. Jenis yang paling sesuai adalah alpukat Mickey dari Depok, rasa buah dan harganya paling bagus di Indonesia,” katanya.
Nilai ekonominya pun cukup menarik.
Syahril menyebut harga alpukat di tingkat supermarket dapat mencapai sekitar Rp70.000 per kilogram, sementara di tingkat petani berada di kisaran Rp30.000 per kilogram.
Pohon yang mulai memasuki usia produktif sekitar dua tahun disebut sudah dapat menghasilkan puluhan kilogram buah. Bahkan ketika tanaman semakin matang, produksinya diproyeksikan mencapai 200 hingga 300 kilogram per pohon.
Dengan harga di tingkat petani sekitar Rp30.000 per kilogram, satu pohon berpotensi menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp6 juta dalam satu masa panen.
Potensi itulah yang ingin dimanfaatkan untuk memperkuat kas dan kegiatan sosial rumah ibadah.
Target Ratusan Rumah Ibadah
Program penanaman akan dilakukan secara bertahap hingga 31 Agustus 2026.
Dari sekitar 900 rumah ibadah yang ada di Kota Bogor, panitia FMP menargetkan sekitar 30 persen di antaranya dapat mengikuti program pada tahap awal.
Rumah ibadah yang berminat tidak serta-merta langsung mendapatkan pohon. Panitia terlebih dahulu akan melakukan survei untuk memastikan kondisi dan kelayakan lahan.Dengan begitu, pohon yang ditanam diharapkan benar-benar dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Menariknya, pengurus rumah ibadah juga tidak perlu khawatir dengan persoalan perawatan.Syahril mengatakan pemupukan dapat dilakukan secara sederhana menggunakan pupuk organik yang ditaburkan sekitar satu bulan sekali. Panitia FMP juga siap membantu menyediakan pupuk apabila pengurus mengalami kendala.
“Pemupukan organik cukup dilakukan sebulan sekali dengan cara ditabur tanpa perlu repot menggali tanah, dan pihak panitia siap menyuplai pupuk jika ada kendala,” jelasnya.
Hasil Panen 100 Persen untuk Rumah Ibadah
Untuk memastikan program berjalan berkelanjutan, evaluasi akan dilakukan setiap tahun.Rumah ibadah yang dinilai berhasil merawat pohon dengan baik nantinya akan diberikan penghargaan.Namun, yang paling penting, seluruh hasil panen nantinya dipastikan menjadi hak rumah ibadah sepenuhnya.
Panitia FMP tidak akan mengambil bagian dari hasil penjualan buah alpukat tersebut.Konsep inilah yang menjadi pesan utama program tersebut: memberikan aset produktif agar rumah ibadah tidak selamanya bergantung pada sumbangan masyarakat.
“Daripada rumah ibadah terus mencari sumbangan, kami hibahkan pancingnya supaya rumah ibadah itu bisa memberdayakan ekonominya dengan baik,” tegas Syahril.
Program wakaf pohon alpukat ini pun diharapkan tidak berhenti pada kegiatan tanam dan seremoni. Ketika pohon tumbuh, berbuah, dan menghasilkan pendapatan, semangat gotong royong yang menjadi bagian dari FMP diharapkan ikut tumbuh bersama manfaat ekonominya.
Satu pohon ditanam hari ini, dengan harapan bertahun-tahun kemudian menjadi sumber manfaat bagi rumah ibadah dan masyarakat di sekitarnya. (Hana)








Komentar