RASIOO.ID – Di tengah hiruk-pikuk Festival Merah Putih yang memenuhi kawasan Jalan Sudirman, Kota Bogor, Minggu 9 Agustus 2026, suara bel dan sirine sepeda tua seolah membawa siapa pun yang mendengarnya kembali ke masa lalu.
Deretan sepeda onthel dengan bentuk klasik dan penuh karakter menjadi perhatian tersendiri. Bukan sekadar kendaraan tua, sepeda-sepeda tersebut menyimpan cerita panjang tentang perjalanan zaman, perjuangan, hingga kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Adalah Onthel Community Bogor (ONCOM) yang membawa kisah tersebut ke tengah kemeriahan Festival Merah Putih. Komunitas yang berdiri sejak 2000 itu konsisten menjadikan sepeda tua sebagai medium untuk merawat ingatan sejarah bangsa.
ONCOM sebelumnya dikenal dengan nama Bogor Onthel Club (BOC). Kini, komunitas tersebut memiliki sekitar 80 anggota yang tersebar di sejumlah wilayah Kota Bogor, mulai dari Bogor Barat, Bogor Timur hingga Bogor Selatan.
Setiap pekan, para anggotanya rutin berkumpul di kawasan Taman Peranginan dan Taman Sudirman. Mereka tidak hanya bersepeda bersama, tetapi juga merawat koleksi sekaligus berbagi cerita tentang sejarah di balik setiap sepeda yang dimiliki.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah sepeda merek Pesting buatan Belanda yang diperkirakan diproduksi pada rentang 1912 hingga 1928.Sepeda milik anggota ONCOM, Memet Gonzales, tersebut bukan sekadar barang koleksi. Sepeda itu memiliki sejumlah perlengkapan yang menggambarkan fungsi kendaraan pada masa lalu, salah satunya sirine.
“Ini buatan Belanda tahun 1928, mereknya Pesting. Memang sepeda ini dulunya untuk ngangkut alat-alat perang. Ada sirinenya juga,” kata Memet.
Menurut dia, sirine asli pada sepeda tersebut memiliki ukuran lebih besar dan saat ini masih tersimpan di museum. Pada masanya, perlengkapan tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari memberi tanda di lingkungan asrama hingga membantu kondisi darurat.
“Dulu fungsinya untuk membangunkan orang-orang TNI atau ABRI di asrama, terus dipakai juga buat ambulans dan pemadam kebakaran saat kondisi darurat. Dulu kan belum ada listrik,” tuturnya.
Koleksi ONCOM pun semakin menarik karena sejumlah sepeda dilengkapi aksesori yang berkaitan dengan berbagai periode sejarah, termasuk peninggalan dan replika dari masa VOC hingga pendudukan Jepang.
“Kalau sirine yang ini buatan Jepang. Kalau pistolnya VOC, Belanda punya. Waktu zaman dulu bedilnya pakai pelor kocok. Begitu sudah panas, baru ditembakkan,” ujarnya.
Berburu Onthel Tua hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Timur
Mencari sepeda onthel berusia puluhan bahkan ratusan tahun bukan perkara mudah. Di wilayah Bogor, keberadaan sepeda dengan kondisi dan tingkat keaslian tertentu semakin sulit ditemukan.
Karena itu, para anggota ONCOM rela berburu hingga berbagai daerah di Pulau Jawa. Sejumlah koleksi didapatkan dari Yogyakarta, Solo, Tuban, dan daerah lainnya di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.
Nilainya pun tidak kecil. Harga sepeda tua tersebut dapat berkisar mulai dari Rp5 juta hingga Rp20 juta per unit, tergantung kondisi, kelengkapan, keaslian, dan nilai sejarah yang melekat pada sepeda.
Namun bagi para anggota ONCOM, nilai sebuah sepeda tidak semata-mata diukur dari harga.
Merawat sepeda tua membutuhkan perhatian khusus agar komponen dan rangka yang sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun tetap terjaga.
“Dirawat aja, digosok dan dibersihkan. Jangan dipakai pas hujan, bisa berkarat,” kata Memet.
Untuk penyimpanan jangka panjang, sepeda biasanya digantung agar tidak bersentuhan langsung dengan lantai. Beberapa bagian juga dirawat menggunakan minyak mesin jahit agar tetap terlindungi dari air dan kelembapan.
Dari Sepeda hingga Kostum, Semua Bercerita tentang Masa Lalu
Yang membuat ONCOM semakin unik bukan hanya koleksi sepeda tuanya. Para anggota juga kerap mengenakan pakaian bernuansa sejarah ketika mengikuti kegiatan komunitas maupun festival.
Ada yang mengenakan seragam tentara PETA, tentara Inggris, pakaian pejabat Demang hingga busana yang menggambarkan para pejuang daerah.
Bagi Rahmat, salah seorang anggota senior sekaligus mantan Ketua ONCOM, kostum tersebut bukan sekadar pelengkap penampilan.Pakaian dan sepeda digunakan sebagai cara sederhana untuk membuat sejarah lebih dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.“Baju-baju ini bikin sendiri. Ada kostum tentara PETA, tentara Inggris, pakaian Demang, sampai pakaian pejuang daerah,” ujar Rahmat.
“Kita ingin sejarah itu tidak hilang dan tetap dilestarikan,” tambahnya.
Menurut Rahmat, kehadiran komunitas di berbagai kegiatan publik menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kembali benda-benda bersejarah kepada anak-anak muda.“Terutama untuk anak cucu kita dan generasi Gen Z ke depan. Ini loh sepeda dan peninggalan zaman dulu yang masih ada,” tuturnya.
Menariknya, ONCOM tidak membatasi keanggotaan berdasarkan usia. Siapa pun yang memiliki ketertarikan terhadap sepeda tua, sejarah, olahraga maupun kegiatan komunitas dapat bergabung.
“Komunitas kita ini sifatnya bebas dan terbuka untuk siapa saja. Di sini ada yang usianya sudah 78 tahun tapi tetap energik karena merasa senang,” katanya.
Rahmat menyebut, dalam beberapa waktu terakhir ketertarikan anak-anak muda, termasuk Gen Z, terhadap komunitas sepeda tua mulai tumbuh.
Bagi mereka, bersepeda bersama bukan hanya kegiatan rekreasi atau olahraga. Ada pengalaman belajar sejarah yang ikut berjalan di setiap kayuhan.
Jangan Biarkan Sejarah Hilang Ditelan Zaman
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, Rahmat berharap generasi muda tidak hanya mengenal sejarah melalui buku atau layar gawai.
Menurutnya, sepeda onthel dapat menjadi salah satu pintu untuk mengenalkan perjalanan bangsa melalui benda yang masih bisa dilihat, disentuh, bahkan dikendarai.“Harapan kita, semoga Indonesia ke depan bisa jauh lebih maju, dan harapan besar kami ada di tangan anak-anak muda Gen Z,” ujarnya.
Ia mengingatkan, kemajuan zaman seharusnya tidak membuat generasi muda melupakan akar sejarah bangsanya.“Sepeda onthel ini bukan cuma besi tua, tapi ada nilai perjuangan, keringat, dan cerita para pendahulu kita di dalamnya,” tuturnya.
Karena itu, ONCOM berharap semakin banyak anak muda yang mau mengenal, merawat, sekaligus meneruskan cerita di balik benda-benda bersejarah tersebut.“Kami ingin adik-adik Gen Z mau ikut merawat, belajar, dan membanggakan sejarah ini,” tambahnya.
“Pintu komunitas kami selalu terbuka lebar untuk mereka yang mau bergabung, bersepeda bareng, dan menjaga agar identitas sejarah kita tidak musnah ditelan zaman,” pungkasnya.
Di tengah Festival Merah Putih, kayuhan sepeda tua ONCOM seolah menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu harus berada di balik lembaran buku. Kadang, ia masih bergerak di jalanan—dengan roda yang berputar, bel yang berbunyi, dan cerita yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Hana)






Komentar