RASIOO.id — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor resmi meluncurkan inovasi digital terbaru bernama Sistem Informasi Rumah Sampah (Si Rusa). Langkah strategis ini diambil guna memperkuat tata kelola persampahan daerah melalui pendataan berbasis data akurat (real-time), sekaligus mendorong aksi pemilahan sampah langsung dari sumbernya, terutama sektor Hotel, Restoran, dan Kafe (Horeka).
Sektor Horeka sendiri menyumbang porsi yang terbilang besar, yakni mencapai 20 hingga 30 persen dari total volume sampah di Kota Bogor. Melalui aplikasi Si Rusa, seluruh unit usaha yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) kini diwajibkan menginput data timbulan sampah harian mereka beserta status pemilahannya—baik organik, anorganik, maupun residu.
Sekretaris DLH Kota Bogor, Setiawati, menegaskan bahwa aplikasi ini menjadi solusi atas permasalahan klasik pendataan sampah yang selama ini kerap bergantung pada estimasi semata.
“Selama ini masalah data sering kali menjadi persoalan klasik yang masih mengandalkan perkiraan atau ‘kirologi’. Dengan Si Rusa, kita bisa mendapatkan data langsung dari sumbernya,” ujar Setiawati, Selasa 18 Agustus 2026.
Tanggung Jawab Hulu dan Integrasi Energi Hijau
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menggarisbawahi pentingnya komitmen dan tanggung jawab sosial dari para pelaku usaha. Menurutnya, penyelesaian masalah sampah tidak bisa hanya bertumpu pada fasilitas pengolahan di hilir, melainkan harus dimulai dari reduksi di tingkat hulu.
Pengurangan di Sumber: Pelaku usaha diimbau memilah sampah secara mandiri sehingga sampah yang diangkut ke TPA hanyalah residu yang tidak lagi bernilai ekonomi.
Optimasi Rute & PSEL: Data presisi dari Si Rusa akan dimanfaatkan untuk memetakan rute armada pengangkut serta menyuplai bahan baku operasional fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) berkapasitas 1.000 ton per hari.
Sinergi Komunitas: Sampah organik yang terpilah akan dihubungkan dengan komunitas penggiat lingkungan, seperti budidaya maggot.
Tertib Retribusi: Para pengusaha juga diimbau taat membayar retribusi pelayanan persampahan untuk menunjang keberlanjutan fasilitas daerah.
Dedie mengingatkan, keberadaan teknologi pengolahan canggih seperti PSEL sekalipun tidak akan cukup menampung laju pertumbuhan sampah akibat lonjakan populasi jika tidak diimbangi dengan kesadaran memilah sejak dari meja usaha.













Komentar