RASIOO.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kota Bogor tengah mengembangkan peta digital yang memungkinkan masyarakat memantau wilayah rawan bencana. Melalui platform tersebut, warga nantinya dapat mengetahui sebaran laporan kejadian bencana serta wilayah yang masuk kategori zona merah.
Kepala BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko, mengatakan pengembangan peta digital tersebut dilakukan untuk meningkatkan keterbukaan informasi sekaligus memudahkan masyarakat memantau perkembangan penanganan bencana di wilayahnya.
“Kami punya peta digital, sedang dilakukan pengembangan di mana nanti masyarakat bisa secara update melihat berapa banyak laporan kejadian yang sudah ditangani,” ujar Dimas, Jumat, 6 November 2026.
Ia menjelaskan, wilayah yang masuk kategori zona merah merupakan daerah dengan jumlah laporan kejadian bencana yang telah ditindaklanjuti cukup tinggi.
“Dalam arti kata zona merahnya sudah banyak laporan kejadian yang ditindaklanjuti di daerah tersebut,” jelasnya.
Dimas mencontohkan, berdasarkan infografis hingga 4 November 2026, BPBD Kota Bogor mencatat sebanyak 682 laporan kejadian. Mayoritas laporan tersebut berkaitan dengan dampak cuaca ekstrem.
Dari sebaran laporan yang masuk, wilayah Bogor Barat tercatat sebagai salah satu kawasan dengan jumlah kejadian tertinggi. Posisi berikutnya ditempati Bogor Selatan dan Kecamatan Tanah Sareal.
“Wilayah Bogor Barat, Bogor Selatan disusul oleh Kecamatan Tanah Sareal,” tuturnya.
Menurut Dimas, potensi risiko bencana di Kota Bogor saat ini hampir merata. Karena itu, masyarakat di seluruh wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama menjelang puncak musim hujan.
Ia menyebut cuaca ekstrem menjadi ancaman dengan jumlah kejadian paling tinggi. Dampaknya antara lain pohon tumbang, rumah roboh, hingga atap bangunan yang rusak akibat angin kencang.
“Paling tinggi adalah potensi cuaca ekstrem. Jadi cuaca ekstrem itu dampaknya adalah seperti yang teman-teman ketahui, pohon tumbang, rumah rubuh, atap rubuh, dan lain-lain,” ungkapnya.
Selain cuaca ekstrem, ancaman lainnya adalah tanah longsor dan banjir. Kedua bencana tersebut mencakup banjir lintasan maupun banjir akibat limpasan air.
Dimas menambahkan, berdasarkan prediksi BMKG, Kota Bogor akan memasuki musim hujan pada Desember 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian BPBD untuk memperkuat kesiapsiagaan dan pemantauan wilayah rawan bencana.
Melalui pengembangan peta digital, BPBD berharap masyarakat dapat memperoleh informasi kebencanaan secara lebih mudah dan mengetahui kondisi wilayah yang perlu diwaspadai.















Komentar