Menutup Tahun dengan Budaya: Cara Warga Desa Ciadeg Menjaga Jati Diri

RASIOO.id — Perkumpulan Pemuda Desa Ciadeg, Kecamatan Cigombong, Kabupateb Bogor yang tergabung dalam komunitas “BENALU” menutup akhir tahun dengan cara yang berbeda. Tanpa gemerlap kembang api dan seremonial berlebihan, warga memilih refleksi akhir tahun melalui hiburan rakyat dan pelestarian budaya yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini menjadi ruang berkumpul, berbagi, sekaligus panggung pencarian dan perawatan bakat seni budaya di tingkat desa. Di panggung sederhana itu, masyarakat merayakan kebersamaan, ingatan kolektif, dan harapan akan masa depan.

Beragam kesenian tradisional ditampilkan, mulai dari calung kesenian Sunda yang kini semakin jarang ditemui dan terancam punah, hingga tarawangsa, karinding, tarian rakyat, serta pencak silat Cimande.

Seluruh pertunjukan dihadirkan bukan semata hiburan, melainkan sebagai denyut budaya yang terus hidup karena dijaga dan diwariskan.

Tokoh pemuda setempat Aban Sudrajat, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari kegelisahan sekaligus kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal.

“Kami ingin menutup tahun dengan cara yang bermakna. Budaya adalah identitas kami. Kalau bukan kami yang merawat, lalu siapa lagi?” ujar Aban.

Sorotan utama memang tertuju pada keterlibatan generasi muda. Para pemuda Desa Ciadeg tampil sebagai pelaku utama dalam upaya pelestarian kesenian calung.

Dengan semangat dan konsistensi berlatih, mereka membuktikan bahwa tradisi tidak ditinggalkan oleh generasi sekarang.

“Calung bukan sekadar alat musik tua. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, disiplin, dan rasa memiliki. Kami ingin calung tetap hidup, bukan hanya dikenang,” tambah Aban.

Suasana reflektif semakin lengkap dengan digelarnya nonton bareng film dokumenter Mulih ka Jati, Mulang ka Asal. Film ini mengisahkan makna pulang ke nilai, ke alam, dan ke budaya, serta mengajak masyarakat merenungkan pentingnya menjaga jati diri agar tidak tercerabut oleh arus modernisasi.

Menurut Aban, film tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus memutus akar.

“Modern itu penting, tapi jangan sampai kita lupa asal. Budaya justru bisa jadi pondasi untuk melangkah lebih jauh,” katanya.

Tak hanya berdampak secara kultural, kegiatan refleksi akhir tahun ini juga menggerakkan ekonomi warga. UMKM lokal Desa Ciadeg turut ambil bagian dengan menghadirkan kuliner tradisional, kerajinan tangan, dan produk olahan masyarakat. Perputaran ekonomi terjadi secara alami, mencerminkan semangat ekonomi kerakyatan—dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

“Budaya dan ekonomi harus jalan bareng. Kalau budaya hidup, UMKM ikut bergerak, desa jadi lebih berdaya,” ujar Aban.

Melalui refleksi akhir tahun ini, masyarakat Desa Ciadeg meneguhkan komitmen bahwa budaya tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus dihidupkan. Dari panggung hiburan rakyat, keterlibatan pemuda, hingga transaksi sederhana UMKM, tumbuh optimisme akan keberlanjutan budaya dan kemandirian ekonomi desa.

Menutup tahun dengan hiburan rakyat dan menyongsong tahun baru dengan kesadaran budaya menjadi pesan utama kegiatan ini. Bagi warga Desa Ciadeg, menjaga budaya dan menguatkan UMKM adalah cara paling jujur untuk menjaga jati diri—sekaligus menata masa depan desanya.

 

Simak rasioo.id di Google News

Komentar