RASIOO.id – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap temuan mengejutkan terkait dugaan perputaran dana dari aktivitas pertambangan emas ilegal di Indonesia yang nilainya mencapai Rp 992 triliun.
Temuan tersebut mengindikasikan praktik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang masif dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Aktivitas ilegal tersebut terdeteksi terjadi di sejumlah daerah, mulai dari Papua, Kalimantan Barat, Sulawesi, Sumatera Utara, Pulau Jawa, hingga wilayah lainnya.
Bahkan, PPATK mencatat adanya dugaan aliran emas hasil PETI ke pasar luar negeri, yang semakin memperbesar potensi kebocoran pendapatan negara.
Indonesia kini dinilai tengah menghadapi darurat kebocoran penerimaan negara di sektor pertambangan. Selain merusak ekosistem hutan dan lingkungan hidup, praktik PETI disebut menciptakan “lubang hitam ekonomi” yang menyedot potensi pendapatan negara dalam skala besar.
Menindaklanjuti laporan PPATK tersebut, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) menyatakan akan melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah aktivitas pertambangan ilegal tersebut berada di kawasan hutan.
“Sepanjang berkaitan dengan pelanggaran aturan, khususnya tambang ilegal di kawasan hutan, tentu data analisis PPATK akan kami tindaklanjuti dengan pengecekan dan verifikasi di lapangan,” ujar Juru Bicara Satgas PKH, Barita Simanjuntak, kepada wartawan, Senin, 2 Februari 2026.
Barita menegaskan, kewenangan Satgas PKH mencakup seluruh pelanggaran hukum di kawasan hutan, baik yang berkaitan dengan perkebunan sawit maupun aktivitas pertambangan ilegal.
11 Warga Tewas di Area Tambang Emas Pongkor
Di tengah sorotan terhadap tambang emas ilegal, kabar duka datang dari kawasan tambang emas PT Antam Tbk, Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor, Kabupaten Bogor. Setelah sebelumnya sempat dinyatakan nihil korban, fakta di lapangan mengungkap adanya enam warga sipil yang meninggal dunia.
Kepala Desa Bangun Jaya, Kecamatan Cigudeg, Haji Abdul Halim, membenarkan bahwa enam warganya meninggal dunia diduga akibat menghirup asap dari lubang tambang.
“Ya betul, warga Bangun Jaya Kampung Cimapag Hilir ada enam orang,” ujar Abdul Halim dengan nada prihatin.
Seluruh korban diketahui berasal dari Kampung Cimapag Hilir, Desa Bangun Jaya, yang mengindikasikan aktivitas penambangan dilakukan secara berkelompok. Aktivitas tersebut diduga merupakan praktik gurandil atau penambangan ilegal yang telah lama berlangsung di sekitar kawasan tambang.
Pengakuan kepala desa ini sekaligus mematahkan pernyataan awal yang menyebutkan tidak adanya korban jiwa, serta menepis anggapan bahwa kabar tersebut hanya isu atau rumor.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus penambangan emas ilegal di kawasan PT Aneka Tambang (Antam), Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, yang menewaskan 11 warga.
Ia meminta aparat menangkap pihak yang menyuruh dan menikmati keuntungan terbesar dari aktivitas ilegal tersebut. Dedi menegaskan, 11 warga yang tewas merupakan korban dari praktik penambangan emas liar yang melibatkan komplotan.
Menurut ia, keuntungan utama dari aktivitas tersebut justru dinikmati oleh pihak yang memerintahkan dan membeli hasil tambang, bukan para pekerja di lapangan.
“Pak Kapolda sudah bicara ke saya, buru pelakunya. Pelakunya kan yang nyuruh dong, yang membeli. Mereka yang paling menikmati keuntungan dibanding orang yang melaksanakan tambang ilegalnya,” ujar Dedi.
Mantan Bupati Purwakarta itu mengatakan, kepolisian telah menyampaikan komitmen untuk memburu pihak-pihak yang berperan sebagai bandar atau pengepul emas hasil tambang ilegal.
“Pak Kapolda sudah menyampaikan ke saya akan fokus memburu pelaku, bandar dari tambang emas liar,” kata Dedi.
Dedi juga mengungkapkan telah bertemu dengan keluarga korban yang meninggal dunia di Gedung Pakuan pada Jumat siang. Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan keluarga korban, mulai dari anak hingga orangtua.
Diberitakan, total 11 warga meninggal dunia usai terjebak kepulan asap di wilayah Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Seluruh korban itu diduga sebagai penambang emas ilegal yang terjebak dala Ke-11 korban tersebut berasal dari tiga kecamatan berbeda, yaitu Kecamatan Nanggung, Kecamatan Cigudeg, dan Kecamatan Sukajaya.
Sebelumnya, PT Antam Tbk telah mengeluarkan klarifikasi resmi terkait video yang beredar di media sosial mengenai dugaan gas beracun, ledakan, dan korban massal di area tambang Pongkor.
Corporate Secretary PT Antam Tbk, Wisnu Danandi, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.
“Informasi yang menyebut adanya ledakan di area tambang serta klaim ratusan orang terjebak di dalam tambang adalah tidak benar atau hoaks,” ujar Wisnu dalam keterangan resminya.
Menurutnya, video yang beredar merupakan dokumentasi penanganan kondisi teknis di area tambang bawah tanah yang telah diantisipasi sesuai prosedur keselamatan dan standar operasional perusahaan, termasuk pengaturan ventilasi serta pengamanan area kerja.
“Kondisi tersebut tidak berdampak pada keselamatan karyawan Antam, dan seluruh aktivitas operasional perusahaan berada dalam kondisi terkendali,” jelasnya.











Komentar